Kamis, 09 Agustus 2012

Fotosintesis dan Respirasi


Fotosintesis merupakan penyedia makanan bagi hampir seluruh kehidupan di dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Organisme memperoleh senyawa organik yang digunakan untuk energi dan rangka karbon dengan cara autotrofik atau heterotrofik. Organisme autotrof menyediakan makanan bagi dirinya secara total tanpa memakan atau menguraikan organisme lain. Sedangkan organisme hetereotrof memenuhi kebutuhan materi organik dari organisme lain dengan cara memakan organisme lain, menguraikan sisa tubuh organisme yang telah mati (Campbell et al., 2002).
Fotosintesis dapat dilakukan oleh organisme yang memiliki pigmen klorofil pada sel tubuhnya. Ada empat kelompok organisme yang memiliki klorofil yaitu tumbuhan, ganggang, protista uniseluler dan prokariota fotosintetik. Klorofil pada tumbuhan terdapat di dalam kloroplas sedangkan pada organisme uniseluler subtansi klorofil terdapat di dalam sitoplasma. Dengan klorofil Organisme tersebut mampu menangkap energi matahari untuk menyintesis molekul-molekul organik kaya energi dari prekursor anorganik yaitu air (H2O) dan karbondioksida (CO2).
Fotosintesis terjadi di dalam kloroplas oleh karena klorofil terdapat dalam kloroplas. Sel yang mengandung kloroplas terdapat pada semua bagian tumbuhan yang berwarna hijau pada tumbuhan, termasuk batang hijau dan buah yangbelum matang. Akan tetapi daun merupakan tempat paling utama berlangsungnya fotosintesis pada sebagian besar tumbuhan. Terdapat kira-kira setengah juta kloroplas tiap miliminter persegi permukaan daun (Campbel et al., 2002).
Reaksi Kimia Fotosintesis
Secara umum fotosintesis terjadi dalam dua tahapan yaitu reaksi terang (light reaction) dan reaksi gelap (dark reaction). Reaksi terang merupakan tahapan yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya matahari. Reaksi ini melibatkan Fotosistem I dan II yang bekerja sama menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan ATP dan NADPH sebagai produk reaksi terang. Sedangkan reaksi gelap merupakan tahapan lanjutan dari reaksi terang, di mana terjadi fiksasi karbondioksida untuk direduksi menjadi karbohidrat.
Adapun proses terjadinya fotosintesis dijelaskan oleh Campbel et al., (2002) sebagai berikut:
Reaksi Terang, proses ini terjadi dalam enam tahapan (gambar 2):
  1. Ketika fotosistem II menyerap cahaya, suatu electron yang dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi dalam klrofil pusat reaksi (P680) ditangkap oleh akseptor electron primer.
  2. Suatu enzim mengekstraksi electron dari air dan mengirimnya ke P680, menggantikan setiap electron yang keluar dari klorofil ketika molekul ini menyerap cahaya. Reaksi ini menguraikan molekul air menjadi dua ion hydrogen dan satu atom oksigen yang segera bergabung dengan atom oksigen lain membentuk O2.
  3. Setiap electron terfotoeksitasi mengalir dari akseptor electron primer fotosistem II ke fotosistem I melalui rantai transport electron.
  4. Begitu electron menuruni rantai tersebut, eksegoniknya “jatuh” ke tingkat yang lebih rendah ditangkap oleh membrane tilakoid untuk menghasilkan ATP. Karena Sintesis ATP ini menggunakan energi cahaya maka proses ini disebut fotofosforilasi (nonsiklik).
  5. Apabila electron mencapai dasar rantai transport electron, electron ini mengisi “lubang” electron di P700 molekul klorofil a pada pusat reaksi fotosistem I. Lubang ini tercipta ketika energi cahaya menggerakkan electron dari P700 ke aksptor electron primer fotosistem I.
  6. Akseptor electron primer fotosistem I melewatkan electron terfotoeksitasi ke rantai transport electron kedua, yang menyalurkannya ke feredoksin (Fd). Selanjutnya, enzim NADP+ reduktase menyalurkan electron dari Fd ke NADP+ sehingga terbentuk NADPH.
Reaksi Gelap, proses ini terjadi dalam tiga fase (gambar 3):
  1. Fase I, Fiksasi karbon. Siklus Calvin memasukkan setiap molekul CO2 dengan menautkannya pada gula berkarbon-lima yang dinamai ribulosa bisfosfat (RuBP) dengan bantuan RuBP karboksilase atau rubisko. RuBP kemudian terurai membentuk dua molekul 3-fosfogliserat.
  2. Fase II, Reduksi. Setiap molekul 3-fosfogliserat menerima gugus fosfat baru dari ATP sehingga membentuk 1,3-bisfosfogliserat. Selanjutnya sepasang electron yang disumbangkan dari NADPH mereduksi gugus karboksil 3-fosfogliserat menjadi gugus karbonil yang berupa G3P (gula berkarbon 3).
  3. Fase III, Regenerasi akseptor CO2 (RuBP). Rangka karbon yang terdiri atas lima molekul G3P disusun ulang oleh langkah terakhir skilus Calvin menjadi tiga molekul RuBP. Untuk menyelesaikan ini, siklus menghabiskan tiga molekul ATP. Siklus Calvin secara keseluruhan mengkonsumsi sembilan molekul ATP dan enam molekul NADPH.

Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan pernapasan. Namun demikian, istilah respirasi mencakup proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil, sel. Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai senyawa pemecah, respirasi tidak melulu melibatkan oksigen.
Pada dasarnya, respirasi adalah proses oksidasi yang dialami SET sebagai unit penyimpan energi kimia pada organisme hidup. SET, seperti molekul gula atau asam-asam lemak, dapat dipecah dengan bantuan enzim dan beberapa molekul sederhana. Karena proses ini adalah reaksi eksoterm (melepaskan energi), energi yang dilepas ditangkap oleh ADP atau NADP membentuk ATP atau NADPH. Pada gilirannya, berbagai reaksi biokimia endotermik (memerlukan energi) dipasok kebutuhan energinya dari kedua kelompok senyawa terakhir ini.
Kebanyakan respirasi yang dapat disaksikan manusia memerlukan oksigen sebagai oksidatornya. Reaksi yang demikian ini disebut sebagai respirasi aerob. Namun demikian, banyak proses respirasi yang tidak melibatkan oksigen, yang disebut respirasi anaerob. Yang paling biasa dikenal orang adalah dalam proses pembuatan alkohol oleh khamir Saccharomyces cerevisiae. Berbagai bakteri anaerob menggunakan belerang (atau senyawanya) atau beberapa logam sebagai oksidator.
Respirasi aerob adalah respirasi yang membutuhkan oksigen ( O2 ).
Respirasi aerob terjadi dalam matriks mitokondria.
Respirasi aerob digunakan untuk pemecahan senyawa organik menjadi senyawa anorganik.
Respirasi aerob menghasilkan energi yang lebih besar.
Respirasi aerob menghasilkan 36 ATP.
Proses respirasi aoerob :
1. Glikosis
2. Dekarbosilasi oksidatif
3. Siklus Krebs
4. Transfer elektron

Respirasi anaerob adalah respirasi yang tidak memerlukan oksigen ( O2 ).
Respirasi anaerob terjadi pada sitoplasma.
Respirasi anaerob terjadi untuk penguraian senyawa organik.
Respirasi anaerob menghasilkan energi yang lebih kecil.
Respirasi anaerob menghasilkan 2 ATP.
Proses respirasi anaerob :
1. Fermentasi.
2. Pernafasan intramolekul.


Nama Gas
Simbol Kimia
Volume (%)
Nitogen
Oksigen
Argon
Karbondioksida
Neon
Helium
Ozon
Hidrogen
Krypton
Metana
Xenon
N2
O2
Ar
CO2
Ne
He
O3
H2
Kr
CH4
Xe
78,08
20,95
0,93
0,034
0,0018
0,0052
0,0006
0,00005
0,00011
0,00015
Sangat kecil




Hubungan Suhu dan Pertumbuhan Tanaman

ž  Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman
ž  Suhu berkorelasi positif dengan radiasi mata hari
ž  Suhu: tanah maupun udara disekitar tajuk tanaman
ž  Tinggi rendahnya suhu disekitar tanaman ditentukan oleh radiasi matahari, kerapatan tanaman, distribusi cahaya dalam tajuk tanaman, kandungan lengas tanah
Proses Fisiologis
ž  Suhu mempengaruhi beberapa proses fisiologis penting: bukaan stomata, laju transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, dan respirasi
ž  Peningkatan suhu sampai titik optimum akan diikuti oleh peningkatan proses di atas
ž  Setelah melewati titik optimum, proses tersebut mulai dihambat: baik secara fisik maupun kimia, menurunnya aktifitas enzim (enzim terdegradasi)
Pengaruh suhu terhadap lengas tanah
ž  Peningkatan suhu disekitar iklim mikro tanaman akan menyebabkan cepat hilangnya kandungan lengas tanah
ž  Peranan suhu kaitannya dengan kehilangan lengas tanah melewati mekanisme transpirasi dan evaporasi
ž  Peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro di sekitar tajuk tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim kemarau
ž  Pada musim kemarau, peningkatan suhu iklim mikro tanaman berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang lengas tanahnya terbatas
ž  Pengaruh negatif suhu terhadap lengas tanah dapat diatasi melalui perlakuan pemulsaan (mengurangi evaporasi dan transpirasi)
ž  Penelitian dengan cara mengerudungi tanah menggunakan mulsa plastik ternyata dapat mempertahankan kelembaban tanah, mengendalikan suhu tanah, dan mengurangi evaporasi yang berlebihan
ž  Air tanah tidak banyak yang terbuang atau hilang karena menguap
ž  Kelembaban tanah merupakan faktor penting bagi peningkatan penyerapan unsur hara
ž  Keuntungan pemakaian mulsa: meningkatkan penyerapan air oleh tanah, mempebaiki sifat fisik tanah, mengurangi kisaran suhu tanah, dapat mengendalikan pertumbuhan gulma
ž  Salah satu dampak pemulsaan terhadap perbaikan sifat fisik tanah: memperbaiki aerasi tanah sehingga akar dapat berkembang dengan baik, pertumbuhan tanaman akan lebih subur
Kaitan antara pemberian mulsa dan produktifitas tanaman
ž  Mulsa plastik dengan warna tertentu mampu meningkatkan produktifitas tanaman
ž  Mulsa plastik menyebabkan suhu iklim mikro lebih stabil (tidak naik turun)
ž  Proses fisiologis terutama fotosintesis akan meningkat, produksi bahan kering meningkat
ž  Di samping itu, pemberian mulsa plastik dengan warna tertentu menyebabkan distribusi cahaya di dalam tajuk tanaman lebih merata (mengurangi kasus mutual shading)
Suhu Iklim Global
ž  Saat ini terjadi peningkatan suhu iklim global
ž  Efek gas rumah kaca, meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfer
ž  Meningkatnya konsentrasi CO2 diatmosfer sebenarnya berdampak positif terhadap proses fisiologis tanaman, tetapi pengaruh positif CO2 dihilangkan oleh peningkatan suhu atmosfer yang cenderung berdampak negatif terhadap proses fisiologis tersebut
ž  Pengaruh positif peningkatan CO2 atmosfer : merangsang proses fotosintesis, meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas pertanian tanpa diikuti oleh peningkatan kebutuhan air (transpirasi).
ž  Pengaruh negatif peningkatan CO2: meningkatnya suhu iklim global, berdampak pada peningkatan respirasi, menurunkan produktifitas tanaman. Peningkatan suhu menghilangkan pengaruh positif dari peningkatan CO2

Media Komunikasi Pertanian


BAB I
PENDAHULUAN

Salah    satu    kegiatan    dalam    penyelenggaraan    penyuluhan    pertanian    adalah penyampaian    informasi   dan    teknologi   pertanian   kepada   penggunanya,    informasi   dan teknologi  pertanian  tersebut  bisa  disampaikan secara  langsung maupun  tidak  langsung dengan  menggunakan  media  penyuluhan.  Berbagai  media  penyuluhan  dapat  digunakan untuk megemas  informasi    dan  teknologi  yang  akan  disampaikan  kepada    petani  sebagai pengguna  teknologi seperti  : media cetak, media audio, media audio  visual, media berupa obyek fisik atau benda nyata.
Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa  media  merupakan  suatu  perantara  yang digunakan  dalam proses  belajar.  Tujuan  penggunaan  media adalah  untuk  memperjelas informasi  yang  disampaikan  sehingga  dapat merangsang  fikiran,  perasaan,  perhatian  dan kemampuan   sasaran.   Dengan   demikian   media   berperan   penting   dalam   memberikan pengalaman kongkrit dan sesuai dengan tujuan belajar.
Dalam   bidang   pendidikan,   pelatihan dan   penyuluhan, kemampuan    literasi visual sangat  penting,  khususnya  bagi  para  guru,  dosen,  penyuluh,  maupun  pelatih/fasilitator lainnya    karena    dengan    demikian   mereka    dapat    lebih    efektif    dan    efisien    dalam menyampaikan materi penyuluhan, pelajaran/pelatihannya.
Media    apapun    yang    digunakan,    pada    prinsipnya    harus    dapat   meningkatkan efektivitas   dan   kelancaran   proses   belajar    terutama   dalam memperjelas   materi    yang dipelajari   sehingga   dapat   mempercepat    terjadinya   perubahan   perilaku    (pengetahuan, keterampialn dan sikap) dikalangan kelompok sasaran.
Selain  dari  pada  itu  media  diharapkan  dapat  lebih  mengkongkritkan  apa  yang dijelaskan  komunikator  kepada  komunikan  (sasaran),  sehingga  sasaran  lebih mudah  dan lebih   cepat   menangkap   materi,   apa   yang   dilihat   sasaran   akan    terkesan    lebih    lama dibandingkan  dengan  didengar  dan  media  mampu  memotivasi  dan  mampu  memusatkan perhatian.



BAB II
ISI

A.    Pengertian Media Penyuluhan Pertanian

Kata media berasal dari bahasa latin yang secara harfiah berarti “tengah”, Kata media berasal  dari  bahasa  latin  medius  “pe  antara”,  atau  “pengantar”,  yaitu  perantara  atau pengantar  pesan  dari  pengirim  pesan    kepada    penerima    pesan.    The    Association    for Educational  Communications  Technology  (AECT),   menyebutkan media    sebagai    bentuk dan   saluran yang   digunakan   orang   untuk menyalurkan   pesan   atau    informasi.   Gagne (1970),  mengatakan  bahwa  media  adalah berbagai  jenis  komponen  dalam  lingkungan sasaran  yang  dapat  merangsang  untuk belajar. Sedangkan ”penyuluhan” berasal dari kata ”suluh” yaitu sesuatu yang digunakan untuk   memberi   penerang.   Jadi   media   penyuluhan adalah    suatu    benda    yang    dikemas  sedemikian  rupa  untuk memudahkan  penyampaian materi kepada sasaran, agar sasaran dapat menyerap pesan dengan mudah dan jelas.
Beragamnya media   memiliki   karakteristik   yang   berbeda   pula.   Karena    itu   untuk setiap   tujuan   yang   berbeda   diperlukan   media   yang   berbeda   pula.   Dalam  kaitannya dengan   penyelenggaraan   penyuluhan   ataupun   pelajaran    tadi   sangat   penting   sebagai saluran, penyampaian pesan.

B.     Manfaat Media Penyuluhan Pertanian

Kemajuan    tehnologi    pertanian    saat    ini    semakin    pesat,    baik    tehnologi produksi maupun   tehnologi   sosial    ekonomi.    Persaingan  dalam    berusaha    dibidang    pertanian semakin   meningkat   pula.   Tuntutan   untuk meningkatkan   kualitas   produksi    tidak   dapat ditawar    lagi.   Tehnologi   dan    informasi   yang   berkaitan   dengan   hal-hal    tersebut   perlu disalurkan    dengan    cepat        dari    sumber    pesan    kepada    sasaran,    yakni    petani    dan keluarganya    serta   masyarakat    pertanian    lainnya.   Oleh    karena    itu    peranan   media penyuluhan pertanian semakin penting.
Disamping  itu  kegiatan penyuluhan  pertanian berhadapan  dengan keterbatasan-keterbatasan antara    lain keterbatasan  jumlah   penyuluh,    keterbatasan   dipihak   sasaran, misalnya  tingkat  pendidikan formal  petani  yang  sangat  bervariasi,  keterbatasan  sarana dan  waktu belajar bagi petani. Untuk itu perlu  diimbangi dengan meningkatkan peranan dan penggunaan   media  penyuluhan   pertanian.   Melalui   media  Penyuluhan  Pertanian petani dapat  meningkatkan  interaksi  dengan  lingkungan  sehingga  proses  belajar  berjalan  terus walaupun tidak berhadapan langsung dengan sumber komunikasi.
Peranan  media  penyuluhan  pertanian  dapat  ditinjau  dari  beberapa  segi  yakni  dari proses  komunikasi,  segi  proses belajar  dan  segi  peragaan  dalam proses  komunikasi,  segi proses belajar dan dari peragaan dalam proses belajar.dan dari peragaan.

1.      Peranan  Media  Penyuluhan  Pertanian  Sebagai  Saluran  Komunikasi  (Channel) Dalam Kegiatan Penyuluhan Pertanian
a.  Menyalurkan    pesan/informasi    dari    sumber/komunikator    kepada    sasaran yakni petani   dan   keluarganya   sehingga   sasaran   dapat   menerapkan   pesan   dengan kebutuhannya.
b.  Menyalurkan    “feed    back”  /umpan    balik    dari    sasaran/komunikan    kepada sumber/komuniukator   sebagai   bahan   evaluasi   untuk   perbaikan/   pengembangan dalam penerapan tehnologi selanjutnya.
c.  Menyebarluaskan   pesan    informasi   kemasyarakat   dalam    jangkauan   yang    luas, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
d.  Memungkinkan pelaksanaan penyuluhan pertanian secara teratur dan sistimatik.

2.      Peranan   Media    Penyuluhan    Pertanian    Sebagai   Media    Belajar   Dalam    Kegiatan Penyuluhan Pertanian
Pada  tahap  awal  peranan  penyuluh  pertanian  sangat  dominan  dalam  kegiatan  belajar  petani,  lama  kelamaan  berubah  petani  menjadi  lebih  dinamis  mulai  banyak belajar,    melalui    pengalaman.    Melalui    interaksi    dengan    lingkungannya    dan memanfaatkan media   penyuluhan  pertanian.   Sekarang  penyuluh  pertanian    berperan sebagai mitra kerja petani, mendampingi   dan   membantu petani dalam   memecahkan masalah  yang dihadapi dilapangan   bersama dengan petani  lainnya   melalui   kegiatankelompok  tani. Peranan   media penyuluhan   pertanian    sebagai   media   belajar dalam kegiatan penyuluhan pertanian sebagai berikut :
a.       Memberi pengalaman belajar yang integral dari kongkrit ke abstrak.
Petani    belajar   dimulai    dari    situasi    nyata   dilapangan   melalui   pengalam langsung    sebagai    contoh,    kegiatan        sekolah    lapangan    (SL)    dalam    rangka memasyarakatkan  Pengendalian  hama  terpadu  (PHT)  tanaman  padi.Petani  secara berkelompok   belajar   mengamati   hama/penyakit    tanaman    langsung   dari   runpun padi   sawah.   Cara       belajar    tersebut   disebut   cara   belajar   Lewat   pengalaman (CBLP).   Hasil pengamatan  dicatat   oleh  petani,   kemudian   didiskusikan  bersama secara priodik.
Selanjutnya   petani   belajar   melalui   berbagai   media   penyuluhan   pertanian lainnya   antara   lain    :   spesimen,   poster,    leaflet,    folder,   gambar,   slide,    film   dan sebagainya.   Materi    pelajaran    tidak    terbatas    pada    hama/penyakit    saja    tetapi berkembang  dengan  materi  yang  terkait  seperti  ekologi  tanaman,  musuh  alami, pemupukan,  fisiologi    tanaman dan sebagainya   sampai panen.   Dengan   demikian memberi   pengalaman   yang    luas   dan    terpadu.   Pengalaman-pengalaman   yang diperoleh  dan  kongkrit  kearah  abstrak  penyuluh  pertanian  sebagai  mitra  petani berfungsi membantu/membimbing proses belajar tersebut.
b.      Memungkinkan   proses   belajar   dapat   berlangsung   secara    terus   menerus   dan
berkelanjutan.
Tehnologi  selalu  berubah  dan  berkembangkarena  itu  media  penyuluhan  pertanian harus    selalu    menyalurkan    pesan/informasi    yang    mutakhir.    Siaran  pedesaan misalnya  adalah media  penyuluhan  pertanian  yang  harus  selalu  siap menyalurkan perkembangan tehnologi yang mutakhir tersebut.
c.       Memungkinkan proses belajar secara mandiri.
Tersedianya  berbagai macam   media  penyuluhan  pertanian  seperti:  brosur,    kaset rekaman,    folder,    leaflet,    lembaran    informasi    pertanian    (Lptan)    dan    lain-lain, memungkinkan untuk terjadinya proses belajar secara mandiri.

3.      Peranan Media Penyuluhan Pertanian Sebagai Peragaan Dalam Kegiatan Penyuluhan Pertanian.
Peragaan merupakan  salah  satu  faktor  penting  dalam mencapai  keberhasilan kegiatan  penyuluhan  pertanian.  Media  penyuluhan  pertanian  yang  bersifat  verbalistis akan   kurang   berhasil.   Peragaan   berkaitan   erat       dengan   penginderaan,   peranan pengeinderaan    sangat    penting    dalam    proses    belajar    termasuk    dalam    kegiatan penyuluhan pertanian.
Pendapat   para ahli   dan hasil penelitian   sepertitersebut diatas penting   artinya alam  kegiatan  penyuluhan  pertanian.  Media  harus    berperan  pula  sebagai  peragaan petani  belajar  lebih  efektif  bila  ia  belajar  dengan  melihat, mendengar  dan  sekaligus mengerjakannya (learning by doing).
Sejalan dengan pandangan diatas, maka peranan media penyuluhan pertanian sebagai peragaan dalam kegiatan penyuluhan pertanian sebagai berikut :
a.  Media Penyuluhan Pertanian Mempertinggi Efektivitas belajar
Media  yang  bermuatan  peragaan  dapat menarik  perhatian, memusatkan  perhatian dan memberi  kejelasan  terhadap  pesan  yang  disampaikan  , mempermudah  untuk dimengerti dan kesannya bertahan lama dalam ingatan.
b.  Meningkatkan Interaksi Petani dengan Lingkungannya
Misalnya   melalui   media   demonstrasi   di    lapangan   petani   belajar    langsung   dari lingkungannnya dan hasilnya akan meyakinkan petani terhadap pesan yang didemonstrasikan.
c.  Memungkinkan Untuk Meningkatkan Keterampilan
Keterampilan  hanya  dapat  dicapai  melalui  peragaan  langsung  tentang  langkah langkah  kerja  yang  harus  dilakukan.  Petani  harus  melakukannya  sendiri  sesuai dengan lembaran petunuk kerja melalui media penyuluhan pertanian.

C.  Jenis  Penggolongan Dan Karakteristik Media Penyuluhan Pertanian

Dalam  kaitannya  dengan  penyelenggaraan  pendidikan/pelatihan  dan  penyuluhan, banyak  media  pembelajaran  yang  bisa  digunakan.  Pertanyaan  yang  muncul  sekarang, bukan    pada    banyak    tidaknya   media    penyuluhan    yang    tersedia,    tetapi    bagaimana merencanakan  dan  membuat   media   visual   dalam   kegiatan  pelatihan  dan  penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan para penggunanya.
Komunikasi tidak mungkin akan terjadi tanpa adanya sumber/komunikator yang mempunyai maksud untuk mengadakan komunikasi dengan pihak lain. Penyuluh pertanian/komunikator dalam mengadakan hubungan-hubungan (komunikasi) tertentu (penyuluhan) terhadap petani dapat menggunakan beberapa bahasa (cara) yaitu, lisan, tulisan isyarat, gambar dan gabungan dari macam-macam cara (bahasa) tersebut.
Penyuluh pertanian dalam hal berkomunikasi ini harus pandai malakukan pengandian (enconding) atau dengan lain perkataan mengusahakan apa yang akan disampaikan dengan menggunakan bahasa atau cara-cara yang dipilihnya yang merupakan bahasa (sandi) terbaik sehingga dapat sampai kepada para petani yang dituju serta dapat mempengaruhinya sesuai dengan harapan si penyuluh (sumber).
Keberhasilan penyuluhan bukan hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan saja. Bagaimana menyampaikan materi penyuluhan itu kepada para petani memegang peranan yang menentukan keberhasilan penyuluhan pertanian. Penyampaian materi penyuluhan ini biasanya disebut dengan Metode penyuluhan. Secara singkat metode penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai cara-cara penyampaian materi penyuluhan pertanian melalui media komunikasi oleh penyuluh kepada petani beserta keluarganya.
Metode penyuluhan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan pendekatan yang kita lakukan. Secara umum berdasarkan pendekatanya metode penyuluhan ini dapat dibedakan berdasarkan langsung tidaknya komunikasi yang dilakukan, berdasarkan pendekatan kepada sasaranya dan berdasarkan indera penerima.
Dilihat berdasarkan penyampaian komunikasinya, Metoda penyuluhan dapat digolongkan kedalam 2 (dua) golongan yaitu :
1.      Metoda-metoda yang langsung
Metode ini memberikan kesempatan kepada penyuluh untuk secara langsung berhadapan
dengan sasaran
Contohnya obrolan ditempat peternakan, di rumah, di balai desa, di kantor, dalam kursus tani, dalam penyelenggaraan suatu demonstrasi dan lain-lain.

2.      Metoda-metoda yang tidak langsung.
Dalam hal ini penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran, tetapi dalam menyampaikan pesannya melalui perantara (media). Contoh : melalui radio, siaran televisi, ataupun media tercetak (brosur, leaflet).

Berdasarkan pendekatan kepada sasaran.
Penggolongan ini berdasarkan hubungan jumlah dan penggolongan dari pada sasaran adalah :

A.    Metoda Berdasarkan Perorangan
Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan sasaran secara perorangan.
Contohnya :
a. Kunjungan ke rumah petani, ataupun petani berkunjung ke rumah penyuluh dan ke kantor.
b. Surat menyurat secara perorangan.
c. Demonstrasi pilot.
d. Belajar perorangan, belajar praktek.
e. Hubungan telepon / SMS

B.     Metoda dengan pendekatan kelompok
Dalam hal ini penyuluh berhubungan dengan kelompok sasaran, contohnya dapat dilakukan dengan :
a. Pertemuan (contoh : di rumah, di saung tani, di balai desa, dan lain-lain.
b. Perlombaan.
c. Demonstrtasi cara/hasil.
d. Kursus tani.
e. Musyawarah/diskusi kelompok/temu karya.
f. Karyawisata.
g. Hari lapangan petani (farm field day).

C.     Metode dengan pendekatan masal.
Dengan metode ini penyuluh menyampaikan pesannya secara langsung maupun tidak langsung kepada sasaran dengan jumlah yang banyak (massal). Contohnya dapat dilakukan dengan :
a. Rapat (pertemuan umum)
b. Siaran pedesaan melalui Radio/TV
c. Pemuatan film/slide
d. Penyebaran bahan tulisan : (brosur, leaflet, folder, booklet dan sebgainya)
e. Pemasangan Poster dan Spanduk
f. Pertunjukan Kesenian

Berdasarkan indera penerima di bagi atas :
1. Metode-metode yang dilakukan dengan jalan memperlihatkan materi penyuluhan kepada sasaran.
Dengan metode ini pesan diterima melalui indera penglihatan kita.
Contohnya :
a. Pesan yang tertulis
b. Pesan yang bergambar
c. Pesan yang terproyeksi : seperti film/slide tanpa penjelasan vocal/bisu.

2. Metode-metode yang disampaikan melalui pendengaran
Dengan metode ini pesan akan diterima oleh sasaran melalui indera pendengaran.
Contohnya dapat dilakukan dengan :
a. Siaran pedesaan melalui radio/TV
b. Hubungan tilpon / SMS.
c. Pidato, ceramah, rapat.

3. Metode yang disampaikan melalui kombinasi beberapa macam alat indera.
Dengan metode ini pesan diterima oleh sasaran bisa melalui indera pendengaran, indera penglihatan, diraba, dicium ataupun dikecap secara sekaligus. Contohnya dapat dilakukan dengan :
a. Demonstrasi
b. Peragaan dengan penjelasan
c. Dan lain-lain
Masing – masing metode penyuluhan dapat dilakukan secara sendiri-sendiri ataupun dikombinasikan antara beberapa metode penyuluhan, tergantung kondisi sasaran kita, perilaku sasaran, sarana yang tersedia, kemampuan kita dalam meyampaikan materi, jumlah sasaran, keadaan sosial ekonomi sasaran dan tak kalah pentingnya adalah pembiayaan yang tersedia. Lebih baik lagi apabila kita memperhatikan metode penyuluhan yang sudah familiar di lokasi tersebut dan tidak memerlukan biaya yang besar.


BAB III
PENUTUP

Keberhasilan penyuluhan bukan hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan saja. Bagaimana menyampaikan materi penyuluhan itu kepada para petani memegang peranan yang menentukan keberhasilan penyuluhan pertanian. Penyampaian materi penyuluhan ini biasanya disebut dengan Metode penyuluhan. Secara singkat metode penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai cara-cara penyampaian materi penyuluhan pertanian melalui media komunikasi oleh penyuluh kepada petani beserta keluarganya.
Metode penyuluhan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan pendekatan yang kita lakukan. Secara umum berdasarkan pendekatanya metode penyuluhan ini dapat dibedakan berdasarkan langsung tidaknya komunikasi yang dilakukan, berdasarkan pendekatan kepada sasaranya dan berdasarkan indera penerima.

Hama Pada Tanaman Kelapa Sawit


1
a.    Kumbang (Oryctes rhinoceros)
Ordo : Coleoptera




dengan gejala serangan pada daun muda yang belum membuka, pangkal daun berlubang-lubang. Pengendalian dengan menggunakan predator seperti ular, burung dan sebagainya. Selain menggunakan predator hama juga dapat menggunakan parasit hama tersebut seperti virus Baculovirus oryctes dan jamur seperti Metharrizium anisopliae .
b.    Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Ordo : Dorylaimida



dengan gejala serangan pada daun. Daun yang terserang menggulung, tumbuh tegak, warna daun berubah menjadi kuning dan akhirnya akan mongering. Pengendaliannya dapat dengan cara pohon yang terserang dibongkar dan dibakar, ataupun dengan cara tanaman dimatikan dengan menggunakan racun natrium arsenit.
c.    Ulat api (Setora nitens, Darna trima, Ploneta diducta)
Ordo : Lepidoptera


dengan gejala serangan daun menjadi berlubang-lubang dan selanjutnya hanya tersisa tulangnya daunnya saja. Pengendalian dapat dengan cara pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 gr/lt, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 gr/lt.
d.    Ulat kantong (Matisa plana, Mahasena corbetti, Crematosphisa pendula)
Ordo : Lepidoptera


dengan gejala serangan daun rusak, berlubang menjadi tidak utuh, dan tahap selanjutnya daun akan menjadi kering serta berwarna abu-abu. Pengendalian dapat dengan cara aplikasi insektisida yang berbahan aktif triklorfon 707 gr/lt dengan dosis 1.5 – 2 kg/ha. Dapat juga menggunakan timah arsetat dengan dosis 2.5 kg/ha.
e.    Tikus (Rattus tiomanicus, Rattus sp)
Ordo : Soricomorpha


Gejala serangan adanya bekas gigitan terutama pada buah, bibit dan tanaman muda yang terserang pertumbuhannya tidak normal. Pengendalian dapat menggunakan atau mendatangkan predator seperti burung hantu, ular dan sebagainya, serta tindakan pengemposan pada tempat-tempat yang dijadikan sarang oleh tikus.
f.     Belalang (Valanga nigricornis, Gastrimargus marmoratus)
Ordo : Orthoptera



dengan gejala awal bagian tepian daun yang terserang terdapat bekas gigitan. Pengendalian dapat menggunakan predator seperti burung sebagai pemangsa alaminya.
g.    Tungau (Oligonychus sp)
Ordo : Acariformes


dengan gejala serangan pada daun yang terserang berwarna seperti perunggu dan mengkilat. Pengendalian dengan melakukan aplikasi akarisida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75.2 gr/lt.

h.    Ngengat (Tirathaba mundella)
Ordo : Lepidoptera

dengan gejala serangan pada buah muda maupun buah tua terdapat lubang-lubang. Pengendalian dengan cara pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 gr/lt atau andosulfan 350 gr/lt.
i.      Pimelephila ghesquierei
Ordo : Lepidoptera


dengan gejala serangan pada daun yang terserang banyak yang patah karena menyerang dengan melubangi tulangan daun. Pengendalian dapat dilakukan dengan pengaplikasian semprot parathion 0.02 %.  

2.   Hama Tanaman Padi

a. Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng
padi berpunggung putih (Sogatella furcifera).

Ordo : Hemiptera



Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling
ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus.  Gejala:
tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti
terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.  Pengendalian: (1)
bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami
seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemportan insektisida
Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.


b.Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis  dan  N.
impicticep).

Ordo : Hemiptera



Merusak dengan cara mengisap cairan daun.  Gejala: di tempat bekas hisapan
akan tumbuh cendawan jelaga, daun tanaman kering dan mati. Tanaman ada
yang menjadi kerdil, bagian pucuk berwarna kuning hingga kuning kecoklatan.
Malai yang dihasilkan kecil.


c.Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Ordo : Hemiptera



Menyerang buah padi yang masak susu. Gejala: dan menyebabkan buah hampa
atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada
daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.
Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan
dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik; (2)
menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP,
Kiltop 50 EC.


d. Kepik hijau (Nezara viridula)
Ordo : Hemiptera



Menyerang batang dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas
tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan
tanaman terganggu.  Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telur-
telurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75
WP.




e. Hama tikus (Rattus argentiventer)
Ordo : Soricomorpha



Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama
tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang
batang muda (1-2 bulan) dan buah.  Gejala: adanya tanaman padi yang roboh
pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.

Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas  musuh alami
seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan
teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan
jagung atau beras.


f. Burung (manyar  Palceus manyar, gelatik  Padda aryzyvora, pipit  Lonchura
lencogastroides, peking L. puntulata, bondol hitam L. ferraginosa dan bondol putih
L. ferramaya).

Ordo : Passeriformes




Menyerang padi menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.
Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.


3.   Hama Tanaman Cabai
a.    Kutu daun persik (Myzus persicae)
Ordo : Hemiptera









Kutu daun persik memiliki alat tusuk isap, biasanya kutu ini ditemukan dipucuk dan daun muda tanaman cabai. Ia mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga dan bagian tanaman yang lain sehingga daun jadi keriting dan kecil warnanya brlang kekuningan, layu dan akhirnya mati. Melalui angin kutu ini menyebar ke areal kebun. Efek dari kutu ini menyebabkan tanaman kerdil, pertumbuhan terhambat, daun mengecil. Kutu ini mengeluarkan cairan manis yang dapat menutupi permukaan daun akan ditumbuhi cendawan hitam jelaga sehingga menghambat proses fotosintesis. Kutu ini juga ikut andil dalam penyebaran virus.
Pengendalian dengan cara menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai seperti jagung.
Kendalikan dengan kimia seperti Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC, Decis 2,5 EC, Hostation 40 EC, Orthene 75 SP.

b.    Thrips/kemreki (Thrips parvispinus)
Ordo : Thysanoptera







Hama ini berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan dengan kepala hitam. Didaun terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan, kemudian berubah menjadi kecokelatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas. Thrips sering bersarang di bunga, ia juga menjadi perantara penyebaran virus. sebaiknya dihindari penanaman cabai dalam skala luas dapa satu hamparan.
Dengan pergiliran tanaman adalah langkah awal memutus perkembangan Thrips.
Pengendalian dengan memasang perangkap kertas kuning IATP (Insect Adhesive Trap Paper), dengan cara digulung dan digantung setinggi 15 Cm dari pucuk tanaman.
Gunakan pengendalian dengan insektisida secara bijaksana. Yang dapat dilih antara lain Agrimec 18 EC, Dicarzol 25 SP, Mesurol 50 WP, Confidor 200 SL, Pegasus 500 SC, Regent 50 SC, Curacron 500 EC, Decis 2,5 EC, Hostathion 40EC, Mesurol 50 WP. Dosis penyemprotan disesuaikan dengan label kemasan.

c.    Kutu daun kapas (Aphis gossypi)
Ordo : Homoptera









Sewaktu muda kutu ini berwarna putih, kemudian dewasa menjadi hijau kehitaman. Hama ini mengisap cairan tanaman. Daun yang terserang berubah keriput. Pertumbuhan terhambat dan kalau dibiarkan tanaman bisa mati.Kutu dewasa membentuk sayap dan terbang ke tempat lain. Kutu ini menghasilkan embun jelaga berwarna hitam yang mengganggu proses fotosintesis, juga menjadi perantara penyebaran virus.
Kendalikan dengan Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC,

d.    Pengorok daun (Liriomyza spp)
Ordo : Diptera









Hama ini bersifat polifag, menyerang hampir semua jenis tanaman. Gejala serangan tampak pada daun ukir-ukiran seperti batik, ini terjadi karena larva mengorok jaringan di dalam daun.
Pengendalian dengan Agrimec18 EC, Trigard.

e.    Ulat grayak (Spodoptera litura).
Ordo : Lepidoptera









Daun bolong-bolong pertanda serangan ulat grayak. Kalau dibiarkan tanaman bisa gundul atau tinggal tulang daun saja. Ia juga memakan buah hingga berlubang akibatnya cabe tidak laku dijual.
Pengendalian dengan cara mengumpulkan telur dan ulat-ulat langsung membunuhnya. Jaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama dan pergiliran tanaman. Pasang perangkap ngengat UGRATAS, dengan cara dimasukkan kedalam botol bekas air mineral ½ liter yang diberi lubang kecil sebagai sarana masuknya kupu jantan. Karena UGRATAS adalah zat perangsang sexual pada serangga jantan dewasa dan sangat efektif untuk dijadikan perangkap.Jika terpaksa atasi serangan ulat grayak dengan Decis 2,5 EC, Curacron 500 EC, Orthene 75 Sp, Match 50 EC, Hostathion 40 EC, Penyemprotan kimia dengan cara bergantian agar tidak terjadi kekebalan pada hama.

f.     Tungau / tengu / mite (Polyphagotarsonemus latus Bank dan Tetranyhus innabarinus Boisd)
Ordo : Acariformes







Tanda kehadiran tungau ini adalah adanya warna cokelat mengkilap di bagian bawah daun. Sedang pada daun bagian atasnya ada dijumpai bercak kuning. Hama ini menyerang daun yang mengakibatkan daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah. Pucuk daun seperti terbakar, tepi daun keriting. Kutu ini juga menyerang bunga, pentil dan buah. Tungau berukuran sangat kecil dan bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangan yang berat terutama pada musim kemarau, menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting.
Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida seperti Omite 57 EC, Apollo 500 SC, Mitisun 570 EC, Merothion 500 EC, Sterk 150 EC, Mitac 200 EC, Curacron 500 EC, Agrimec 18 EC, Pegasus 500 EC.

g.    Lalat buah (Dacus ferrugineus Coquillet atau Dacus Dorsalis Hend)
Ordo : Diptera








Lalat ini menusuk pangkal buah cabe yang terlihat ada bintik hitam kecil bekas tusukan lalat buah untuk memasukkan telur. Buah yang terserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk, dan berlobang. Setelah telur menetas jadi larva (belatung) dan hidup di dalam buah sampai buah rontok dan membusuk larva akan keluar ke tanah dan seminggu kemudian berubah menjadi lalat muda.

4.   Hama Tanaman Kedelai

a.  Aphis SPP (Aphis Glycine)
Ordo : Homoptera






Kutu dewasa ukuran kecil 1-1,5 mm berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) menanam kedelai pada waktunya, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacangkacangan; (2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya; (3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4)
penyemprotan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah.

b. Melano Agromyza Phaseoli , kecil sekali (1,5 mm)
Ordo : Diptera





Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian: (1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering); (2) penyemprotan Agrothion 50 EC, Azodrin 15 WSC, Sumithoin 50 EC, Surecide 25 EC

c. Kumbang daun tembukur (Phaedonia Inclusa)
Ordo : Coleoptera





Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan Agrothion 50 EC, Basudin 50 EC, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC.

d. Cantalan (Epilachana Soyae)
Ordo : Coleoptera




Kumbang berwarna merah dan larvanya yang berbulu duri, pemakan daun dan merusak bunga. Pengendalian: sama dengan terhadap kumbang daun tembukur.

e. Ulat polong (Etiela Zinchenella)
Ordo : Lepidoptera







Ulat yang berasal dari kupu-kupu ini bertelur di bawah daun buah, setelah menetas, ulat masuk ke dalam buah sampai besar, memakan buah muda. Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian: (1) kedelai ditanam tepat pada waktunya (setelah panen padi), sebelum ulat berkembang biak; (2) penyemprotan obat Dursban 20 EC sampai 15 hari sebelum panen.

f. Kepala polong (Riptortis Lincearis)
Ordo : Hemiptera





Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa. Pengendalian: penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC.


g. Lalat kacang (Ophiomyia Phaseoli)
Ordo : Diptera





Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian: Saat benih ditanam, tanah diberi Furadan 36, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, dengan dosis 2 cc/liter air, volume larutan 1000 liter/ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

h. Kepik hijau (Nezara Viridula)
Ordo : Hemiptera





Panjang 16 mm, telur di bawah permukaan daun, berkelompok. Setelah 6 hari telur menetas menjadi nimfa (kepik muda), yang berwarna hitam bintik putih. Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat. Pengendalian: Azodrin 15 WCS, Dursban 20 EC, Fomodol 50 EC.

i. Ulat grayak (Prodenia Litura)
Ordo : Lepidoptera





Seranggan: mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu berwarna keabu-abuan, panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir. Gejala: kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian: (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC, Azodrin 15 WSC dan Basudin 50 EC.
5.    Hama Tanaman Selada
a.    Thrips/kemreki (Thrips parvispinus)
Ordo : Thysanoptera



Hama ini berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan dengan kepala hitam. Didaun terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan, kemudian berubah menjadi kecokelatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas. Thrips sering bersarang di bunga, ia juga menjadi perantara penyebaran virus. sebaiknya dihindari penanaman cabai dalam skala luas dapa satu hamparan.
Dengan pergiliran tanaman adalah langkah awal memutus perkembangan Thrips.
Pengendalian dengan memasang perangkap kertas kuning IATP (Insect Adhesive Trap Paper), dengan cara digulung dan digantung setinggi 15 Cm dari pucuk tanaman.
Gunakan pengendalian dengan insektisida secara bijaksana. Yang dapat dilih antara lain Agrimec 18 EC, Dicarzol 25 SP, Mesurol 50 WP, Confidor 200 SL, Pegasus 500 SC, Regent 50 SC, Curacron 500 EC, Decis 2,5 EC, Hostathion 40EC, Mesurol 50 WP. Dosis penyemprotan disesuaikan dengan label kemasan.

b.    Kutu daun kapas (Aphis gossypi)
Ordo : Homoptera









Sewaktu muda kutu ini berwarna putih, kemudian dewasa menjadi hijau kehitaman. Hama ini mengisap cairan tanaman. Daun yang terserang berubah keriput. Pertumbuhan terhambat dan kalau dibiarkan tanaman bisa mati.Kutu dewasa membentuk sayap dan terbang ke tempat lain. Kutu ini menghasilkan embun jelaga berwarna hitam yang mengganggu proses fotosintesis, juga menjadi perantara penyebaran virus.
Kendalikan dengan Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC,