Kamis, 09 Agustus 2012

Hama Pada Tanaman Kelapa Sawit


1
a.    Kumbang (Oryctes rhinoceros)
Ordo : Coleoptera




dengan gejala serangan pada daun muda yang belum membuka, pangkal daun berlubang-lubang. Pengendalian dengan menggunakan predator seperti ular, burung dan sebagainya. Selain menggunakan predator hama juga dapat menggunakan parasit hama tersebut seperti virus Baculovirus oryctes dan jamur seperti Metharrizium anisopliae .
b.    Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Ordo : Dorylaimida



dengan gejala serangan pada daun. Daun yang terserang menggulung, tumbuh tegak, warna daun berubah menjadi kuning dan akhirnya akan mongering. Pengendaliannya dapat dengan cara pohon yang terserang dibongkar dan dibakar, ataupun dengan cara tanaman dimatikan dengan menggunakan racun natrium arsenit.
c.    Ulat api (Setora nitens, Darna trima, Ploneta diducta)
Ordo : Lepidoptera


dengan gejala serangan daun menjadi berlubang-lubang dan selanjutnya hanya tersisa tulangnya daunnya saja. Pengendalian dapat dengan cara pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 gr/lt, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 gr/lt.
d.    Ulat kantong (Matisa plana, Mahasena corbetti, Crematosphisa pendula)
Ordo : Lepidoptera


dengan gejala serangan daun rusak, berlubang menjadi tidak utuh, dan tahap selanjutnya daun akan menjadi kering serta berwarna abu-abu. Pengendalian dapat dengan cara aplikasi insektisida yang berbahan aktif triklorfon 707 gr/lt dengan dosis 1.5 – 2 kg/ha. Dapat juga menggunakan timah arsetat dengan dosis 2.5 kg/ha.
e.    Tikus (Rattus tiomanicus, Rattus sp)
Ordo : Soricomorpha


Gejala serangan adanya bekas gigitan terutama pada buah, bibit dan tanaman muda yang terserang pertumbuhannya tidak normal. Pengendalian dapat menggunakan atau mendatangkan predator seperti burung hantu, ular dan sebagainya, serta tindakan pengemposan pada tempat-tempat yang dijadikan sarang oleh tikus.
f.     Belalang (Valanga nigricornis, Gastrimargus marmoratus)
Ordo : Orthoptera



dengan gejala awal bagian tepian daun yang terserang terdapat bekas gigitan. Pengendalian dapat menggunakan predator seperti burung sebagai pemangsa alaminya.
g.    Tungau (Oligonychus sp)
Ordo : Acariformes


dengan gejala serangan pada daun yang terserang berwarna seperti perunggu dan mengkilat. Pengendalian dengan melakukan aplikasi akarisida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75.2 gr/lt.

h.    Ngengat (Tirathaba mundella)
Ordo : Lepidoptera

dengan gejala serangan pada buah muda maupun buah tua terdapat lubang-lubang. Pengendalian dengan cara pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 gr/lt atau andosulfan 350 gr/lt.
i.      Pimelephila ghesquierei
Ordo : Lepidoptera


dengan gejala serangan pada daun yang terserang banyak yang patah karena menyerang dengan melubangi tulangan daun. Pengendalian dapat dilakukan dengan pengaplikasian semprot parathion 0.02 %.  

2.   Hama Tanaman Padi

a. Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng
padi berpunggung putih (Sogatella furcifera).

Ordo : Hemiptera



Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling
ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus.  Gejala:
tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti
terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.  Pengendalian: (1)
bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami
seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemportan insektisida
Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.


b.Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis  dan  N.
impicticep).

Ordo : Hemiptera



Merusak dengan cara mengisap cairan daun.  Gejala: di tempat bekas hisapan
akan tumbuh cendawan jelaga, daun tanaman kering dan mati. Tanaman ada
yang menjadi kerdil, bagian pucuk berwarna kuning hingga kuning kecoklatan.
Malai yang dihasilkan kecil.


c.Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Ordo : Hemiptera



Menyerang buah padi yang masak susu. Gejala: dan menyebabkan buah hampa
atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada
daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.
Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan
dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik; (2)
menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP,
Kiltop 50 EC.


d. Kepik hijau (Nezara viridula)
Ordo : Hemiptera



Menyerang batang dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas
tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan
tanaman terganggu.  Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telur-
telurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75
WP.




e. Hama tikus (Rattus argentiventer)
Ordo : Soricomorpha



Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama
tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang
batang muda (1-2 bulan) dan buah.  Gejala: adanya tanaman padi yang roboh
pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.

Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas  musuh alami
seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan
teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan
jagung atau beras.


f. Burung (manyar  Palceus manyar, gelatik  Padda aryzyvora, pipit  Lonchura
lencogastroides, peking L. puntulata, bondol hitam L. ferraginosa dan bondol putih
L. ferramaya).

Ordo : Passeriformes




Menyerang padi menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.
Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.


3.   Hama Tanaman Cabai
a.    Kutu daun persik (Myzus persicae)
Ordo : Hemiptera









Kutu daun persik memiliki alat tusuk isap, biasanya kutu ini ditemukan dipucuk dan daun muda tanaman cabai. Ia mengisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga dan bagian tanaman yang lain sehingga daun jadi keriting dan kecil warnanya brlang kekuningan, layu dan akhirnya mati. Melalui angin kutu ini menyebar ke areal kebun. Efek dari kutu ini menyebabkan tanaman kerdil, pertumbuhan terhambat, daun mengecil. Kutu ini mengeluarkan cairan manis yang dapat menutupi permukaan daun akan ditumbuhi cendawan hitam jelaga sehingga menghambat proses fotosintesis. Kutu ini juga ikut andil dalam penyebaran virus.
Pengendalian dengan cara menanam tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling kebun cabai seperti jagung.
Kendalikan dengan kimia seperti Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC, Decis 2,5 EC, Hostation 40 EC, Orthene 75 SP.

b.    Thrips/kemreki (Thrips parvispinus)
Ordo : Thysanoptera







Hama ini berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan dengan kepala hitam. Didaun terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan, kemudian berubah menjadi kecokelatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas. Thrips sering bersarang di bunga, ia juga menjadi perantara penyebaran virus. sebaiknya dihindari penanaman cabai dalam skala luas dapa satu hamparan.
Dengan pergiliran tanaman adalah langkah awal memutus perkembangan Thrips.
Pengendalian dengan memasang perangkap kertas kuning IATP (Insect Adhesive Trap Paper), dengan cara digulung dan digantung setinggi 15 Cm dari pucuk tanaman.
Gunakan pengendalian dengan insektisida secara bijaksana. Yang dapat dilih antara lain Agrimec 18 EC, Dicarzol 25 SP, Mesurol 50 WP, Confidor 200 SL, Pegasus 500 SC, Regent 50 SC, Curacron 500 EC, Decis 2,5 EC, Hostathion 40EC, Mesurol 50 WP. Dosis penyemprotan disesuaikan dengan label kemasan.

c.    Kutu daun kapas (Aphis gossypi)
Ordo : Homoptera









Sewaktu muda kutu ini berwarna putih, kemudian dewasa menjadi hijau kehitaman. Hama ini mengisap cairan tanaman. Daun yang terserang berubah keriput. Pertumbuhan terhambat dan kalau dibiarkan tanaman bisa mati.Kutu dewasa membentuk sayap dan terbang ke tempat lain. Kutu ini menghasilkan embun jelaga berwarna hitam yang mengganggu proses fotosintesis, juga menjadi perantara penyebaran virus.
Kendalikan dengan Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC,

d.    Pengorok daun (Liriomyza spp)
Ordo : Diptera









Hama ini bersifat polifag, menyerang hampir semua jenis tanaman. Gejala serangan tampak pada daun ukir-ukiran seperti batik, ini terjadi karena larva mengorok jaringan di dalam daun.
Pengendalian dengan Agrimec18 EC, Trigard.

e.    Ulat grayak (Spodoptera litura).
Ordo : Lepidoptera









Daun bolong-bolong pertanda serangan ulat grayak. Kalau dibiarkan tanaman bisa gundul atau tinggal tulang daun saja. Ia juga memakan buah hingga berlubang akibatnya cabe tidak laku dijual.
Pengendalian dengan cara mengumpulkan telur dan ulat-ulat langsung membunuhnya. Jaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama dan pergiliran tanaman. Pasang perangkap ngengat UGRATAS, dengan cara dimasukkan kedalam botol bekas air mineral ½ liter yang diberi lubang kecil sebagai sarana masuknya kupu jantan. Karena UGRATAS adalah zat perangsang sexual pada serangga jantan dewasa dan sangat efektif untuk dijadikan perangkap.Jika terpaksa atasi serangan ulat grayak dengan Decis 2,5 EC, Curacron 500 EC, Orthene 75 Sp, Match 50 EC, Hostathion 40 EC, Penyemprotan kimia dengan cara bergantian agar tidak terjadi kekebalan pada hama.

f.     Tungau / tengu / mite (Polyphagotarsonemus latus Bank dan Tetranyhus innabarinus Boisd)
Ordo : Acariformes







Tanda kehadiran tungau ini adalah adanya warna cokelat mengkilap di bagian bawah daun. Sedang pada daun bagian atasnya ada dijumpai bercak kuning. Hama ini menyerang daun yang mengakibatkan daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah. Pucuk daun seperti terbakar, tepi daun keriting. Kutu ini juga menyerang bunga, pentil dan buah. Tungau berukuran sangat kecil dan bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangan yang berat terutama pada musim kemarau, menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan daun-daunnya keriting.
Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida seperti Omite 57 EC, Apollo 500 SC, Mitisun 570 EC, Merothion 500 EC, Sterk 150 EC, Mitac 200 EC, Curacron 500 EC, Agrimec 18 EC, Pegasus 500 EC.

g.    Lalat buah (Dacus ferrugineus Coquillet atau Dacus Dorsalis Hend)
Ordo : Diptera








Lalat ini menusuk pangkal buah cabe yang terlihat ada bintik hitam kecil bekas tusukan lalat buah untuk memasukkan telur. Buah yang terserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk, dan berlobang. Setelah telur menetas jadi larva (belatung) dan hidup di dalam buah sampai buah rontok dan membusuk larva akan keluar ke tanah dan seminggu kemudian berubah menjadi lalat muda.

4.   Hama Tanaman Kedelai

a.  Aphis SPP (Aphis Glycine)
Ordo : Homoptera






Kutu dewasa ukuran kecil 1-1,5 mm berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) menanam kedelai pada waktunya, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacangkacangan; (2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya; (3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4)
penyemprotan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah.

b. Melano Agromyza Phaseoli , kecil sekali (1,5 mm)
Ordo : Diptera





Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian: (1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering); (2) penyemprotan Agrothion 50 EC, Azodrin 15 WSC, Sumithoin 50 EC, Surecide 25 EC

c. Kumbang daun tembukur (Phaedonia Inclusa)
Ordo : Coleoptera





Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan Agrothion 50 EC, Basudin 50 EC, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC.

d. Cantalan (Epilachana Soyae)
Ordo : Coleoptera




Kumbang berwarna merah dan larvanya yang berbulu duri, pemakan daun dan merusak bunga. Pengendalian: sama dengan terhadap kumbang daun tembukur.

e. Ulat polong (Etiela Zinchenella)
Ordo : Lepidoptera







Ulat yang berasal dari kupu-kupu ini bertelur di bawah daun buah, setelah menetas, ulat masuk ke dalam buah sampai besar, memakan buah muda. Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian: (1) kedelai ditanam tepat pada waktunya (setelah panen padi), sebelum ulat berkembang biak; (2) penyemprotan obat Dursban 20 EC sampai 15 hari sebelum panen.

f. Kepala polong (Riptortis Lincearis)
Ordo : Hemiptera





Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa. Pengendalian: penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC.


g. Lalat kacang (Ophiomyia Phaseoli)
Ordo : Diptera





Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian: Saat benih ditanam, tanah diberi Furadan 36, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, dengan dosis 2 cc/liter air, volume larutan 1000 liter/ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

h. Kepik hijau (Nezara Viridula)
Ordo : Hemiptera





Panjang 16 mm, telur di bawah permukaan daun, berkelompok. Setelah 6 hari telur menetas menjadi nimfa (kepik muda), yang berwarna hitam bintik putih. Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat. Pengendalian: Azodrin 15 WCS, Dursban 20 EC, Fomodol 50 EC.

i. Ulat grayak (Prodenia Litura)
Ordo : Lepidoptera





Seranggan: mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu berwarna keabu-abuan, panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir. Gejala: kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian: (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC, Azodrin 15 WSC dan Basudin 50 EC.
5.    Hama Tanaman Selada
a.    Thrips/kemreki (Thrips parvispinus)
Ordo : Thysanoptera



Hama ini berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan dengan kepala hitam. Didaun terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan, kemudian berubah menjadi kecokelatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas. Thrips sering bersarang di bunga, ia juga menjadi perantara penyebaran virus. sebaiknya dihindari penanaman cabai dalam skala luas dapa satu hamparan.
Dengan pergiliran tanaman adalah langkah awal memutus perkembangan Thrips.
Pengendalian dengan memasang perangkap kertas kuning IATP (Insect Adhesive Trap Paper), dengan cara digulung dan digantung setinggi 15 Cm dari pucuk tanaman.
Gunakan pengendalian dengan insektisida secara bijaksana. Yang dapat dilih antara lain Agrimec 18 EC, Dicarzol 25 SP, Mesurol 50 WP, Confidor 200 SL, Pegasus 500 SC, Regent 50 SC, Curacron 500 EC, Decis 2,5 EC, Hostathion 40EC, Mesurol 50 WP. Dosis penyemprotan disesuaikan dengan label kemasan.

b.    Kutu daun kapas (Aphis gossypi)
Ordo : Homoptera









Sewaktu muda kutu ini berwarna putih, kemudian dewasa menjadi hijau kehitaman. Hama ini mengisap cairan tanaman. Daun yang terserang berubah keriput. Pertumbuhan terhambat dan kalau dibiarkan tanaman bisa mati.Kutu dewasa membentuk sayap dan terbang ke tempat lain. Kutu ini menghasilkan embun jelaga berwarna hitam yang mengganggu proses fotosintesis, juga menjadi perantara penyebaran virus.
Kendalikan dengan Curacron 500 EC, Pegasus 500 SC,

Cara Mudah untuk menghafal ordo serangga


a. Ordo Orthoptera (bangsa belalang)
Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain.
Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.
Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur —> nimfa —> dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.
Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah :
- Kecoa (Periplaneta sp.)
- Belalang sembah/mantis (Otomantis sp.)
- Belalang kayu (Valanga nigricornis Drum.)
b. Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding
Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain.
Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.
Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.
Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :
- Walang sangit (Leptorixa oratorius Thumb.)
- Kepik hijau (Nezara viridula L)
- Bapak pucung (Dysdercus cingulatus F)
c. Ordo Homoptera (wereng, kutu dan sebagainya)
Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya.
Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.
Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera.
Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman.
Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti :
- Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.)
- Kutu putih daun kelapa (Aleurodicus destructor Mask.)
- Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla sp.).
d. Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)
Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain.
Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra.
Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan.
Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.
Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong (pupa) —> dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/libera.
Beberapa contoh anggotanya adalah :
- Kumbang badak (Oryctes rhinoceros L)
- Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr)
- Kumbang buas (predator) Coccinella sp.
e. Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)
Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.
Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.
Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.
Beberapa jenisnya antara lain :
- Penggerek batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk)
- Kupu gajah (Attacus atlas L)
- Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura)
f. Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)
Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.
Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.
Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :
- bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum
- bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum
- bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.
Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.
Beberapa contoh anggotanya adalah :
- lalat buah (Dacus spp.)
- lalat predator pada Aphis (Asarcina aegrota F)
- lalat rumah (Musca domesticaLinn.)
- lalat parasitoid (Diatraeophaga striatalis).
g. Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut)
Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk.
Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.
Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.
Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva–> kepompong —> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman.
Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :
- Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu/padi).
- Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).
- Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).
h. Ordo Odonata (bangsa capung/kinjeng)
Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.
Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.
Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi.

Minggu, 29 Juli 2012

Penemuan yang membuat meninggal Penemunya


Untuk pengetahuan yang lebih banyak, ada resiko hidup dan mati. Orang-orang di bawah ini mengambil resiko dan meninggal – tapi sebelumnya berhasil membuat suatu kemajuan. Berikut adalah 10 penemu besar yang meninggal karena penemuannya sendiri.
  1. Marie Curie
    Marie Curie
    Marie Curie adalah seorang ahli fisika dan kimia Perancis-Polandia yang terkenal karena menemukan berbagai elemen baru, termasuk radium dan polonium, juga teori radioaktivitas dan isolasi isotop radioaktif. Ia adalah penerima Penghargaan Nobel tahun 1903 (bersama suaminya Pierre). Ia meninggal tanggal 4 Juli 1934, karena anemia aplastik, berkaitan dengan radiasi. Efek merusak radiasi ion ini belum diketahui, dan banyak karyanya telah diteliti tanpa pengamanan. Ia telah melakukan ujicoba tube berisi isotop radioaktif di kantungnya dan menyimpannya di laci meja, menghasilkan cahaya biru-hijau ketika zat ini dimasukkan ke ruangan gelap.
  2. Thomas Midgley, Jr.
    Thomas Midgley, Jr.
    Thomas Midgley adalah seorang ahli kimia Amerika yang menemukan petrol timah dan CFC. Meskipun dipuji pada masanya, ia dicap sebagai orang yang “memiliki lebih banyak dampak terhadap atmosfir daripada organisme tunggal lainnya sepanjang sejarah Bumi” dan “orang yang bertanggunjawab atas banyaknya kematian daripada yang lain sepanjang sejarah” karena penemuannya. Ia mengidap Polio dan keracunan timah dan dibiarkan begitu saja di tempat tidurnya. Ia meninggal pada usia 55 tahun setelah dicekik oleh salah satu katrolnya dan fakta bahwa kedua penemuannya, petrol timah dan tempat tidur yang dioperasikan katrol, turut berperan dalam kematiannya.
  3. J. G. Parry Thomas

    John Godfrey Parry-Thomas adalah seorang pembalap dan teknisi Wales. Ia selalu mengimpikan memecahkan rekor kecepatan darat yang dipecahkan oleh Malcolm Campbell, dan membuat sebuah mobil yang dapat melakukannya. Ia membuat sebuah mobil, bernama Babs, yang mengalami banyak perubahan, seperti rantai yang menghubungkan roda dengan mesin. Tanggal 27 April 1926, Parry-Thomas memecahkan rekor itu, sebelum meningkatkannya menjadi 170 mph keesokan harinya. Rekor ini bertahan selama satu tahun, sebelum Malcolm Campbell memecahkannya pada 1927. Berusaha merebut kembali gelarnya, salah satu rantai terlepas dan melayang ke lehernya, langsung memenggalnya setengah. Ia meninggal seketika di tempat.
  4. William Bullock
    William Bullock
    William Bullock adalah seorang penemu Amerika yang penemuan pencetak berputarnya tahun 1863 membantu mengubah industri percetakan karena kecepatan dan efisiensinya. Bullock meninggal ketika mencoba memperbaiki salah satu pencetaknya, kakinya hancur di bawah salah satu mesin ketika mencoba menendang katrol untuk kembali ke tempatnya. Kakinya kemudian menjadi tak berbentuk, dan Bullock meninggal ketika operasi dilakukan untuk mengamputasi kakinya.
  5. Otto Lilienthal
    Otto Lilienthal
    Otto Lilienthal adalah perintis penerbangan mansuia yang kemudian dikenal sebagai Raja Paralayang. Ia adalah orang pertama yang berhasil melakukan penerbangan paralayang berturut-turut. Suratkabar dan majalah di banyak negara menerbitkan foto Lilienthal berparalayang, mempengaruhi opini publik dan ilmiah mengenai kemungkinan mesin terbang menjadi praktis setelah zaman fantasi dan pemikiran tidak ilmiah. Pada penerbangan 9 Agustus 1896, Lilienthal jatuh 17 meter. mematahkan tulang belakangnya. Ia meninggal keesokan harinya. Kata-kata terakhirnya adalah, “Pengorbanan kecil harus dilakukan!”.
  6. Franz Reichelt
    Franz Reichelt
    Franz Reichelt adalah seorang penjahit Australia yang menjadi terkenal karena membuat sebuah hibrida parasut yang diklaim dapat menerbangkan pemakainya ke darat atau ke udara. Ia melakukan eksperimen dari dek pertama Menara Eiffel, dan di depan keramaian dan kru kamera, ia langsung jatuh lurus ke bawah. Ia meninggal seketika dari kejatuhan tersebut.
  7. Karel Soucek
    Karel Soucek
    Karel Soucek adalah seorang stuntman Kanada yang terkenal karena menemukan sebuah “kapsul” (sebenarnya hanya sebuah drum yang dimodifikasi) dan berlayar mengarungi Air Terjun Niagara di dalamnya. Ia selamat, meskipun mengalami luka-luka. Tahun 1985, ia meminta sebuah perusahaan untuk mendanai pertunjukan drumnya dari atas Houston Astrodome di Texas. Sebuah air terjun khusus dibuat dari atas struktur 180 kaki ini, dengan kolam di bawah. Tetapi, pertunjukan ini menjadi bencana, dan Soucek menghantam tepi kolam dan bukannya bagian tengah, menyebabkan kapsul ini terpecah dan melukainya. Ia meninggal keesokan harinya. Evel Knievel menyebutnya sebagai stunt paling berbahaya yang pernah dilihatnya. Kapsul Soucek dipajang di New York State Museum.
  8. Cowper Phipps Coles
    Cowper Phipps Coles
    Cowper Phipps Coles adalah seorang Kapten Angkatan Laut KErajaan yang menemukan meriam berputar untuk kapal selama Perang Krimea. Setelah perang, Coles mempatenkan penemuannya dan membangun kapalnya sendiri menggunakan desain revolusioner, diadaptasi dari kapal AL Kerajaan lain. Kapalnya, HMS Captain, membutuhkan beberapa modifikasi tak biasa dan berbahaya tetapi, memiliki “dek badai” yang meningkatkan pusat gravitasi kapal. Tanggal 6 September 1870, HMS Captain terbalik, menewaskan Coles dan sebagian besar dari 500 awak kapalnya.
  9. Alexander Bogdanov
    Alexander Bogdanov
    Alexander Bogdanov adalah seorang ahli fisika, filsuf, pakar ekonomi, penulis fiksi ilmiah, dan revolusioner Rusia. Salah satu eksperimen ilmiahnya melibatkan ide rejuvenasi melalui transfusi darah. Telah melakukan transfusi darah kepada banyak orang terkenal, termasuk saudara Lenin, Bogdanov memutuskan untuk memberikan dirinya transfusi darah dari salah seorang pasiennya yang mengalami malaria dan tuberkulosis. Ia meninggal karena infeksi ini beberapa waktu kemudian.
  10. Henry Winstanley
    Henry Winstanley
    Henry Winstanley adalah seorang arsitek mercusuar Inggris terkenal dan insinyur yang membangun mercusuar Eddystone pertama. Winstanley ingin mencoba kekuatan mercusuar ini dan sangat ingin berada di dalamnya selama badai. Mercusuar ini runtuh, menewaskan Winstanley dan lima orang lainnya.



Senin, 18 Juni 2012

Jamur Shiitake (L. edodes)




1. Prospek perkembangan jamur shiitake
Jepang merupakan produsen terbesar jamur shitake, walaupun jamur ini pertama kali ditemukan di Cina. Perkembangan penanaman jamur shitake di Jepang meningkat pesat sejak tahun 1975. Pada tahun 1983, Jepang dapat memproduksi jamur shitake sebanyak 158.855 ribu ton (berat segar ekuivalen) bemilai $ 689.000.000 yang dihasilkan oleh 167.000 petani.
Ditinjau darijumlah produksi, penanaman jamur shitake di Jepang merupakan salah satu cabang pendng dari pertanian. Pada tahun 1983 - 1984, hasil jamur kayu di Jepang sebanyak 175 ribu ton dan sekitar 53% adalah jamur shitake kering (12.025 ribu ton). Pada tahun tersebut, Jepang mengekspor 2,795 ribu ton jamur shitake kering yang merupakan 23,2% dari jamur kering total yang diproduksinya. Produksi jamur shitake Jepang merupakan 67,8% produksi jamur dunia.

Ukuran pertanian jamur di Jepang ditentukan olehjumlah pokok (balok) kayu yang ditanami jamur. Pada tahun 1983, sejumlah 160.000 petani jamur, sekitar 45 petani mempunyai tidak kurang dari 600 rak pokok kayu dan lebih dari 20 mempunyai antara 600 - 3.000 rak pokok kayu. Hanya sekitar 3,6 petani yang mempunyai 30.000 rak balok.
Kebutuhan jamur di Hongkong disuplai dari negara luar. Tahun 1983, Hongkong impor jamur shitake kering 2.458 ribu ton senilai $ 52 juta dengan harga rata-rata $ 21,2/kg. Hongkong impor jamur shitake dari Jepang 1.638 ribu ton senilai $ 48,6 juta dengan harga rata-rata $ 29,7/kg. Di samping itu, Hongkong juga impor jamur dari Cina dan Korea Selatan.

Jepang adalah negara pengekspor jamur shitake kering. Sedangkan Hongkong adalah pasar terbesar jamur shitake. Hongkong dipasok dari Jepang berkisar 60,1% dari total ekspor Jepang. Jepangjuga memasok jamur shitake ke Malaysia dan Singapura sebanyak 22,5% dan Amerika Serikat sebanyak 13%. Selain Jepang, Cina, dan Korea Selatan, negara-negara lain yang mulai mengembangkan penanaman jamur shitake adalah Taiwan, Singapura, Selandia Barn, dan Thailand. Percobaan dan penelitian tentang jamur shitake juga berkembang di Australia, Belgia, Canada, German, Pilipina, dan Amerika Serikat. Akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, Indonesia juga mulai mengembangkan jamur, termasuk jamur shitake.

Pada tahun 1989, nilai ekspor jamur shitake Indonesia ke Jepang sebanyak 131 kg dengan nilai 230.000 yen. Jepang memang pengekspor jamur shitake, tetapi kebutohan dalam negeri cukup tinggi, yalaii sekitar 90.000 ton shitake. Sejak tahun 1983, produksi jamur shitake Jepang menurun karena bahan baloi kayu yang diperiukan berkurang dan hutan lindung harus tetap dilestarikan. Para petani Jepang membudidayakan jamur shitake masih menggunakan cara tradisional, yaitu menggunakan balok-balok kayu sehingga membutuhkan waktu cukup lama, yakni sekitar 1-2 tahun. Sebagian petani menggunakan teknologi modem, yaitu dengan media tanam polybag dari plastik ataupun secara hidroponik di green house. Cara budi daya modern ini bisa lebih pendek, tetapi memerlukan upah pekerja yang mahal. Dengan demikian, di satu pihak produksi terus merosot dan di lain pihak kebutuhan dalam negeri tetap besar.

Banyaknya pengusaha Jepang menanamkan modal di luar negeri dan munculnya restoran-restoran model Jepang di mana-mana menyebabkan kebutuhan jamur shitake makin meningkat. Akhimya, Jepang semula sebagai pengekspor jamur shitake sekarang menjadi pengimpor jamur shitake.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa budi daya jamur shitake di Indonesia masih punya peluang besar. Faktor lain yang mendukung prospek budi daya jamur shitake di Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Perkembangan industri pariwisata di Indonesia maldn meningkat sehingga kebutuhan akan jamur shitake meningkat pula.
2. Kondisi ikiim Indonesia memungkinkan, serbuk gergaji kayu untuk media jamur shitake melimpah, dan cukup tersedia tenaga kerja.
3. Kesempatan pasar masih terbuka, tidak hanya ke Jepang, tetapi juga ke Hongkong, AS, Australia, dan Eropa.
2. Manfaat jamur shiitake

Bangsa cina percaya bahwa jamur shitake dapat menghilangkan rasa lapar, menghangatkan tubuh saat cuaca dingin seta dapat memperlancar sirkulasi darah didalam tubuh.
Shiitake dalam bahasa Tionghoa disebut xianggu (jamur harum), sedangkan yang berkualitas tinggi dengan payung yang lebih tebal disebut donggu (jamur musim dingin) atau huagu (jamur bunga), karena pada bagian atas permukaan payung terdapat motif retakretak seperti bunga mekar. Di Indonesia, kadang-kadang dinamakan jamur jengkol, karena bentuk dan aromanya seperti jengkol, walaupun bagi sebagian orang rasa jamur ini seperti petai. Tetapi manfaat jamur shitake belum begitu di ketahui banyak orang.

Jamur shitake merupakan tumbuhan yang kaya protein dan sedikit berlemak serta mempunyai rasa yang manis. Perkiraan kandungan gizi jamur dalam 100 gram berat kering, yaitu protein kasar 13,4-17,5 persen, lemak kasar 4,9-8,9 persen, karbohidrat total 67,5-78,0 persen, dan kalori 387-392 persen. Bisa di lihat dari kandungan gizinya, manfaat jamur shitake untuk tubuh begitu besar.

Manfaat jamur shitake antara lain menurunkan kadar kolesterol darah dan menghambat pertumbuhan tumor hingga 72-92 persen.
Kandungan ergosterol dalam jamur shitake akan di olah oleh tubuh menjadi vitamin D setelah kulit terkena sinar matahari, sehingga jamur shitake dapat menjadi sumber vitamin D bagi tubuh. Asam amino yang terkandung dalam jamur shitake dapat membantu meningkatkan  sistem kekebalan tubuh, mengatasi gangguan pencernaan, hati dan melancarkan peredaran darah. Dari temuan para ahli kesehatan, di temukan kandungan letinan dalam jamur shitake yang dapat berfungsi menjadi anti kanker. Jamur shitake juga dapat membantu mengobati tekanan darah tinggi, mengurangi kadar kolesterol darah dan juga dapat menyehatkan jantung.

Berikut table dari kandungan gizi jamur shiitake
Tabel 1. Komposisi kandungan gizi Shiitake (per 100 gram)
Komposisi
Jamur Segar
Jamur Kering
Kadar air
Protein
Lemak
Gula
Serat
Abu
Kalsium
Fosfor
Besi
Kalium
Natrium
Magnesium
Vitamin B
Vitamin B
Niasin
Asam askorbat
Pro vitamin D-2
Nilai buangan
92,8 g
1,5 g
0,4 g
5,4 g
0,6 g
0,3 g
8 mg
39 mg
0,7 mg
< 0,1 mg
0,1 - 0,9 mg
< 0,1 mg
0,40 mg
0,40 mg
4,6 mg
3 mg
< 0,1 mg
10 %
15,8 g
12,5 g
1,6 g
60,0 g
5,5 g
4,6 g
16 mg
240 mg
3,9 mg
1,534 mg
13/1,079 mg
132.247 mg2
1,00 mg
1,000 mg
10,0 mg
9,4/60 mg
0,06 – 27 %
10 %

Tabel 2. Kandungan asam amino Shiitake.
Kandungan Asam Amino
Kandungan (mg/gr protein)
1.      Asam amino esensial
-          Isoleusin
-          Leusin
-          Lisin
-          Metionim
-          Sisitin
-          Fenilalanin
-          Tirosin
-          Treonin
-          Triptofan
-          Valin

218
348
174
87
-
261
174
261
-
261
Total
1.748
2.       Asam amino nonesensial
-          Arginin
-          Histidin
-          Alanin
-          Aspartat
-          Asam glutamate
-          Glisin
-          Prolin
-          Serin

348
87
305
392
1,349
218
218
261
Total
4.962

Tabel 3. Kandungan vitamin dan mineral Shiitake
Kandungan
Jamur shiitake
Kering
Basah
Tiamin
Riboflavin
Niasin
Vitamin C
Kalsium
Fosfor
Besi
0,4
0,9
11,9
0
98
476
8,5
7,8
4,9
54,9
0
12
171
4,0

3. Budidaya jamur shiitake (L. Edodes)
Shiitake yang disebut juga ‘Chinese Black Mushroom’ sudah dikenal sebagai jamur
konsumsi sejak 2000 tahun yang silam di dataran Asia (Cook, 1989). Produksi jamur
Shiitake secara industri massal pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1940an.
Namun budidaya secara traditional sudah dimulai sejak 900 tahunan yang silam di Cina.
Shiitake adalah jamur yang diproduksi paling besar kedua setelah jamur Champignon
dimana Jepang adalah negara produsen terbesar di dunia (Chang dan Miles, 1989).

3.1 Karakteristik biologis
Shiitake diambil dari kata Shii (pohon Shii) dan take (jamur) yakni tempat ditemukannya
jamur ini pertama kali. Di Cina jamur ini disebut Shiang-Gu yang berarti jamur beraroma
(fragrant mushroom). Jamur ini termasuk dalam kelas Basidiomycetes yaitu jamur yang
menghasilkan spora pada basidium. Nama ilmiah yang kini dipakai di kalangan ilmuwan
taksonomi adalah Lentinula edodes. Sebelumnya jamur ini disebut juga Lentinus edodes
Cortinellus shiitake, Cortinellus edodes, Cortinellus berkeleyanus, dan Armillaria edodes
(Leatham dan Leonard, 1989).
Deskripsi jamur Shiitake adalah sebagai berikut : berbentuk payung dengan batang
sentral (3 - 5 cm) yang kadang masih tampak sisa cadar parsial (partial veil); tudung (5 -
12 cm) agak mendatar berwarna krem kecoklatan, yang kalau kering akan pecah-pecah
membentuk sisik-sisik dengan bentuk dan ukuran bervariasi; insang berwarna putih
menempel pada batang dan spora berwarna putih.
Penyebaran jamur Shiitake secara alami adalah mulai dari dataran Cina, Jepang, Taiwan,
Malaysia, Indonesia, sampai ke Papua Newgini (Chang dan Hayes, 1978). Jamur ini
tumbuh secara alami pada pohon-pohon berdaun lebar yang sudah mati (kelas Fagaceae)
seperti Oak, Shii, Beech, dan Chestnut (San Antonio, 1981). Dengan sistem kultivasi log
serbuk gergajian kayu, jamur ini dapat tumbuh juga pada kayu Albasia, Jati, Mahoni,
Pasang, Saninten, dan Kapur (Campbell, 1989).

3.2 Kebutuhan nutrien
Substrat pertumbuhan jamur ini sebagaimana halnya jamur kayu yang lain adalah bahan
yang mengandung lignin dan selulosa yang umumnya terdapat pada tumbuhan yang
berkayu. Dalam aspek pembudidayaan modern penyediaan sumber nutrien dalam substrat
tanam adalah faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan jamur. Pada dasarnya
kebutuhan nutriennya seperti halnya dengan jamur lain terdiri dari sumber karbon,
nitrogen, vitamin dan mineral. Sumber karbon yang baik bagi Shiitake adalah senyawa
pektin, hemiselulosa dan pati. Sedangkan sumber nitrogen yang baik adalah dalam
bentuk asam amino, ammonia dan urea. Kadar nitrogen dalam substrat tanamnya
berkaitan dengan kadar senyawa protein yang dihasilkan tubuh buah. Kadar nitrogen
mesti dalam konsentrasi yang tepat karena kadar yang berlebih justru dapat meghambat
pertumbuhan demikian juga sebaliknya. Meskipun demikian pada saat pembentukan
tubuh buah kadar nitrogen yang minim (kekurangan) justru dapat memacu pembuahan
(Leatham dan Leonard, 1989). Kebutuhan akan vitamin terutama halnya dengan thiamin
(B-1) biasanya terpenuhi dengan penambahan biji-bijian atau dedak. Mineral umumnya
sudah terkandung dari air dan bahan dasar substrat meskipun demikian penambahan
mineral seperti kalium dan magnesium bisa dilakukan dengan pemberian senyawa kimia
seperti KNO3 dan MgSO4.

3.3 Persyaratan fisik
Sebagaimana halnya jamur lain faktor kelembaban tinggi adalah syarat utama yang harus
terpenuhi dalam budidaya jamur Shiitake. Kadar air substrat untuk pertumbuhan
vegetatip tergantung dari jenis substrat yang dipakai. Untuk substrat kayu utuh, kadar air
optimum adalah 45-60% sedangkan dengan substrat serbuk gergajian adalah 60-75%.
Meskipun demikian faktor fisik lain seperti suhu, oksigen cahaya dan gaya tarik bumi
juga merupakan faktor-faktor penting. Pertumbuhan vegetatif opotimum adalah pada
suhu 20-22oC. Sedangkan pada saat pertumbuhan tubuh buah memerlukan suhu optimum
yang bervariasi tergantung strainnya. Untuk strain dingin dapat menghasilkan tubuh buah
dengan baik pada suhu 12-18oC dan strain tropis pada suhu 20-22oC.
Sebagaimana halnya jamur lain, proses aerasi adalah hal yang juga vital. Shiitake seperti
halnya jamur pada umumnya membutuhkan kadar oksigen lebih tinggi pada saat
pembentukan tubuh buah dibandingkan dengan tahap pertumbuhan vegetatif miselium.
Itulah sebabnya log-log plastik yang telah terjadi pertumbuhan miselium vegetatif harus
dibuka pada saat yang tepat. Tentunya hal ini akan mempengaruhi penguapan air dari
dalam log yang tidak kita inginkan. Untuk menanggulanginya dilakukan penyiraman
dengan air kran.
Faktor fisik lain adalah cahaya. Kebanyakan jamur membutuhkan cahaya pada fase
pertumbuhan generatif atau akhir fase vegetatif. Cahaya terutama berperan dalam proses
perangsangan terbentuknya tubuh buah. Cahaya yang berperan dalam pembentukan
primordia ini adalah cahaya biru sampai mendekati ultraviolet. Cahaya pada rentang
lamda (λ) ini terdapat pada cahaya matahari. Cahaya buatan dengan lampu TL dengan
kekuatan 100-300 LUX juga sudah mencukupi. Sebagai patokan kasar, intensitas cahaya
yang dianggap cukup apabila dalam ruangan kita dapat membaca koran dengan jarak satu
lengan antara koran dan mata.
Faktor fisik yang terakhir adalah gaya tarik bumi (gravity). Pertumbuhan miselium
vegetatif umumnya lebih cepat di dalam log dengan posisi vertikal. Ini menandakan
adanya pengaruh gaya gravitasi terhadap pertumbuhan miselium.

3.4 Cara budidaya
Tahap-tahap pekerjaan pada dasarnya sama dengan cara budidaya jamur Tiram yang
mencakup : penyiapan substrat, pencampuran substrat, pengantongan (logging),
sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan tubuh buah, dan panen. Yang berbeda
adalah perlakuan faktor-faktor fisik pada saat pemeliharaan tubuh buah, serta formulasi
substrat tanam. Oleh karena itu, sebaiknya memahami dulu cara budidaya jamur Tiram
sebelum mencoba jamur Shiitake.

3.4.1 Penyiapan substrat
Beberapa contoh formulasi substrat tanam untuk jamur Shiitake adalah sbb:
Formula A Formula B
• Serbuk gergajian kayu = 5000 g * Serbuk gergajian kayu = 800 g
• Dedak = 150 g * Dedak = 200 g
• Tepung maizena = 100 g * Sukrosa = 30 g
• Gula merah = 60 g * KNO3 = 4 g
• Gypsum = 150 g * CaCO3 = 6 g
• Amonium sulfat = 2 g * Air = 2 Liter
• Kalsium super fosfat = 3 g
• Kadar air = 65%
Formula C
• Serbuk gergajian kayu = 45%
• Dedak = 10%
• Kulit kacang = 45%
• Air = 65%

3.4.2 Pencampuran substrat
Bahan-bahan penyusun substrat harus diaduk sehomogen mungkin untuk menjamim
pertumbuhan miselium yang merata ke seluruh bagian dari substrat. Pencampuran dengan
alat (mesin) akan lebih menjamin kemerataan pencampuran dibandingkan dengan cara
manual. Namun demikian cara manual dapat dilakukan dengan waktu pencampuran yang
lebih lama tentunya. Yang penting dalam pencampuran adalah tidak ada bahan yang
menggumpal terpusat pada suatu tempat. Bahan yang berupa butiran padatan berukuran
relatif besar seperti gula atau kapur harus dihaluskan terlebih dahulu untuk memudahkan
pencampuran. Cara yang baik untuk menjamin kemerataan penyebaran bahan yang
berupa butiran padat tadi adalah dengan cara melarutkannya terlebih dahulu ke dalam air
yang akan dipakai dalam campuran. Terutama bahan yang konsentrasinya rendah eperti
sukrosa dan amonium sulfat sebaiknya dilarutkan dulu dalam air.
Untuk mengurangi derajat kontaminasi oleh mikroba liar, proses fermentasi sering
dipraktekkan setelah pencampuran ini. Proses ini juga seperti dapat membantu
menguraikan beberapa senyawa kompleks menjadi lebih sederhana sehingga dapat
dimanfaatkan oleh jamur yang kita tanam. Proses ini dilakukan selama 3-5 hari
tergantung keadaan bahan baku substrat. Selama proses fermentasi (pengomposan) ini
harus dilakukan pengadukan untuk memberikan kesempatan yang merata pada setiap
bagian dari substrat. Pengadukan biasanya dilakukan tiap hari sekali terutama saat
dicapai suhu yang tinggi di dalam gundukan pengomposan.

3.4.3 Pengantongan (logging)
Pengantongan adalah proses selanjutnya yakni memasukkan substrat yang telah dicampur
merata ke dalam kantong plastik polypropylene yang tahan panas. Kantong diisi dengan
substrat secukupnya (tidak terlalu padat dan juga tidak terlalu longgar) sesuai dengan
ukuran log yang diinginkan. Batasan kepadatan log dapat dilakukan dengan jalan
memukul-mukulkan dengan sebuah botol yang diberi pemberat pasir. Memadatkan
dengan pukulan botol berisi pasir (tanpa tenaga tambahan) akan menghaislkan kepadatan
yang sesuai. Setelah kantong diisi dengan substrat secukupnya lalu diberi ring dan kapas
sebagai tempat memasukkan bibit nantinya.

3.4.4 Sterilisasi
Log yang sudah diberi ring dan tutup kapas ini kemudian disterilkan dengan alat autoklaf
atau dipasteurisasi dengan cara mengukus. Cara pertama adalah dengan pemanasan tinggi
(121oC selama tidak kurang ari 1 jam) sedangkan cara kedua adalah pemanasan dengan
suhu tidak lebih dari 100oC dalam waktu tidak kurang dari 5 jam tergantung banyaknya
log yang dipasteurisasi. Kadang pasteurisasi dilakukan secara berulang yakni
memberikan kesempatan bagi bentuk-bentuk resisten dari mikroba untuk berkecambah
menghasilkan bentuk vegetatif dengan demikian dapat dimatikan dengan mudah pada
proses pemanasan yang berikutnya. Tentu cara ini akan menghasbiskan biaya yang lebih
besar mengingat energi bahan bakar atau listrik yang dihabiskan akan lebih banyak.
Namun demikian, hasil yang didapat akan lebih baik karena proses berulang ini akan
lebih menjamin terbunuhnya mikroba-mikroba kontaminan.

3.4.5 Inokulasi bibit
Log-log steril yang sudah dingin sekarang siap diberi (diinokulasikan) bibit secara
aseptis. Penginokulasian dapat dilakukan dengan cara membuat lobang sebelumnya lalu
mengisi penuh lobang tersebut dengan bibit atau dapat pula dengan cara menyebarkan
bibit hanya pada permukaan saja. Untuk satu log substrat tanam cukup memerlukan bibit
sekitar 3-5 sendok the. Pada dasarnya, satu sendok the saja sebenarnya sudah cukup.
Namun, untuk lebih meyakinkan pertumbuhan miselium yang lebih cepat maka jumlah
bibit yang lebih dari itu akan lebih baik. Selama proses penginokulasian usahakan tidak
berbicara secara berlebihan karena uap air yang keluar dar mulut dapat saja
mengkontaminasi substrat yang hendak doberi bibit. Sesudah bibit diinokulasikan lalu
log ditutup kembali dengan kapas lalu log-log yang sudah berisi bibit diimpan di dalam
ruang inkubasi.

3.4.6 Inkubasi
Inkubasi maksudanya adalah proses pemeliharaan (penumbuhan) miselium dalam kondisi
pertumbuhan yang terbaik bagi jamur. Inkubasi biasanya dilakukan pada ruang yang
khusus dimana suhu ruang dapat dijaga konstan. Pada fase inkubasi miselium ini tidak
disarankan untuk melakukan pengaturan kelembaban dalam ruang inkubasi. Kelembaban
sudah terjamin dari kadar air substrat yang diberikan dalam proses pencampuran substrat
sebelumnya. Kelembaban ruang inkubasi tidak banyak membantu kelembaban di dalam
kantong plastik. Salah-salah, kelembaban ruang inkubai dapat menyebabkan spora liar
yang menempel pada kapas penutup dapat berkecambah kemudian miselium jamur liar
ini dapat merambah masuk ke dalam kantong. Oleh karena itu disarankan untuk tidak
membiarkan ruang inkubasi terlalu lembab.
3.4.7 Pemeliharaan tubuh buah
Selanjutnya setelah log ditumbuhi penuh dengan miselium maka log dapat dipindahkan
ke dalam ruang pemeliharaan tubuh buah. Perkembangan log akan melewati tahap-tahap
sebagai berikut :
􀂃 Pembentukan lapisan miselium permukaan yang tebal
􀂃 Pembentukan benjolan
􀂃 Pembentukan warna coklat (pigmentasi)
􀂃 Pengerasan lapisan luar
􀂃 Pembentukan primordia
Log dipelihara sampai terbentuk lapisan miselium yang mengeras pada permukaan log.
Setelah itu akan muncul benjolan-benjolan dengan ukuran yang bervariasi yang tampak
menyembul ke permukaan log. Pada saat ini tutup kapas mulai diperlonggar untuk
membantu sirkulasi udara yang membantu pigmentasi. Kemudian akan diikuti dengan
pembentukan warna kecoklatan yakni suatu tanda pigmentasi. Setelah terbentuk pigmen
tutup kapas dibuka sepenuhnya. Lapisan miselium yang kecoklatan ini kemudian
mengeras seperti kulit batang dalam waktu sekitar 30 hari. Respon ini biasanya berkaitan
dengan upaya dari jamur untuk mengurangi penguapan air dari log. Kadar air di dalam
log akan tetap tinggi tetapi di luar relatif kering. Kulit inilah yang berperan sebagai
pelindung miselium di dalam log dari proses penguapan dan serangan jamur liar.
Pada saat ini, proses pembuahan sudah mulai dipersiapkan dengan memberikan
rangsangan fisik berupa suhu dingin dan kadar air yang berlimpah. Dapat dilakukan
dengan cara merendam log jamur dalam air selama beberapa jam sampai semalaman
dengan suhu sekitar 15°C. Setelah proses perangsangan selesai, log disimpan kembali
pada rak pemeliharaan. Pemeliharaan selanjutnya sangat ditentukan dari pengaturan
kadar oksigen dan kelembaban udara.
Pengaturan kadar oksigen dapat dilakukan dengan membuka jendela ventilasi pada saat
kelembaban udara di luar tinggi. Pengaturan kelembaban dapat dilakukan dengan cara
penyiraman dengan air secara berkala terutama kalau kelembaban udara di luar rendah
(biasanya siang hari). Kadar CO2 yang dibolehkan dalam ruang pemeliharaan adalah
berkisar dari 1200-1500 ppm (Wuest, 1989).
Kadar air log selama proses pembentukan tubuh buah harus dipertahankan antara 55-
65%. Di atas dan di bawah rentang ini akan mengganggu proses pembentukan primordia
(Donoghue & Przybylowicz, 1989). Untuk menjaga kadar air ini dapat dilakukan dengan
menjaga kelembaban udara di ruang pemeliharaan antara 80-90%. Setelah tubuh buah
mencapai ukuran dewasa, kelembaban udara diatur berkisar antara 65-85%. Hal ini
dilakukan untuk memperoleh tubuh buah dengan aroma dan tekstur yang lebih baik.
Kalau dalam periode ini kelembaban udara terlalu tinggi akan menghasilkan tubuh buah
dengan tekstur yang lembek relatif tidak dapat disimpan lama juga aroma yang kurang
baik. Dengan penurunan kelembaban akan menghasilkan tubuh buah yang pecah-pecah
dengan tekstur yang lebih keras dan dapat disimpan dalam waktu relatif lebih lama dan
aroma yang lebih baik. Tekstur seperti ini biasanya lebih disukai oleh konsumen terutama
konsumen luar negeri.

3.4.8 Pemanenan
Proses pembentukan tubuh buah bisa terjadi dalam waktu 5-6 bulan setelah inokulasi.
Proses ini dapat terjadi sebanyak 2-3 kali dengan periode istirahat berkisar sekitar 6
bulan.
Pemanenan dilakukan setelah tudung membuka sekitar 60-70%. Pada fase ini kondisi
tudung sudah menampakkan lemella pada bagian bawah tetapi pinggiran masih sedikit
menggulung. Kalau lewat dari itu jamur biasanya sudah terlalu tua dan sudah dihasilkan
spora dan kualitas jamur biasanya tidak baik (tekstur, waktu simpan dan aroma).
Sedangkan kalau dipanen sebelum itu tidak akan menghasilkan hasil panen yang
maksimum (produktivitas rendah) disamping kualitasnya juga tidak baik.
Disamping cara budidaya dengan sistim log serbuk gergajian, juga dikenal cara budidaya
dengan sistim log kayu utuh. Cara ini merupakan cara tradisional yang banyak dilakukan
di Jepang. Cara ini memiliki kelebihan karena dihasilkan tubuh buah dengan aroma dan
tekstur yang lebih khas. Namun kelemahannya adalah dari segi waktu yang lebih lama
(sampai 1,5 tahun) dan produktivitas yang relatif lebih rendah. Disamping itu luas area
yang dibutuhkan juga lebih luas untuk menghamparkan log-log kayu yang sudah
diinokulasi di lantai hutan sebagai area penginkubasian.

3.5 Pasca panen
Hasil panen jamur Shiitake dapat dikeringkan dengan sinar matahari atau alat pengering
buatan sebelum dipasarkan dalam bentuk kering. Jamur Shiitake yang kering dapat
bertahan lebih lama dibandingkan dengan yang basah. Oleh karena itulah cara
pengeringan paling banyak dilakukan. Untuk menghindari supaya jamur yang sudah
kering tidak kembali menyerap uap air dari udara, maka pengemasan lebih baik
dilakukan dengan sistim fakum. Jamur yang sudah dikeringkan teksturnya dapat kembali
seperti tekstur awal setelah direndam dalam air hangat. Shiitake mengandung senyawa
aktif obat bermanfaat bagi kesehatan sehingga sering juga dimanfaatkan sebagai bahan
pengobatan tradisional. Untuk tujuan pasar lokal, jamur dalam bentuk segar juga sering
dipasarkan di pasar-pasar swalayan yang dikemas langsung dalam kemasan plastik.