Sabtu, 12 Mei 2012

Pengendalian Hama Terpadu Pada Tanaman Kakao (Theobroma cacao)


PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Benih dan bibit merupakan salah satu factor produksi yang memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu dan produktifitas tanaman.Kekeliruan dalam pemeliharaan,penyediaan dan penanganan terhadap benih dan bibit akan berdampak fatal dan akan mengakibatkan kerugian yang terus-menerus bagi petani/pengusaha perkebunan,serta untuk memperbaikinya memerlukan waktu yang lama.
            Dalam upaya mendukung Program Pengembangan dan Perluasan Perkebunan,khususnya kakao diperlukan penyediaan dan penanganan benih dan bibit kakao yang baik dan benar.Dalam hal ini faktor Perlindungan terhadap benih/bibit khususnya terhadap gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) memegang peranan yang sangat penting an perlu ditingkatkan.
            OPT tidak hanya menerang benih,tetapi juga dapat menyerang bibit dipembibitan.Akibat gangguan OPT tersebut dapat menyebabkan meningkatnya jumlah benih dan bibit yang tidak memenuhi persyaratan untuk ditanam.Apabila benih/bibit yang tidak baik terpaksa ditanam dapat mengakibatkan kerugian yang besar karena akan mendapatkan tanaman dengan kualitas dan kuantitas produksi yang rendah dan akan berakibat fatal.Disamping itu biasanya pertumbuhan tanaman tidak normal,sehingga pada umumnya keadaan tersebut sulit untuk diperbaiki.
Teknologi Benih Kakao
            Berbeda dengan benih tamanan perkebunan lainnya,benih/biji kakao tidak memiliki masa istirahat dan mudah terserang oleh OPT sehingga sebelum disemaikan diperlukan penanganan yang khusus.
            Benih kakao,sejak dikeluarkan dari buah,akan segera berkecambah dalam waktu 3-4 hari.Dalam keadaan normal,benih kakao akan hilang daya tumbuhnya setelah 10-15 hari.Sedangkan apabila masih dalam buah walaupun kulit buah sudah mengeras dan mengkerut masih mampu bertahan sampai 20 hari.


            Daya tumbuh benih kakao depengaruhi oleh banyak faktor antara lain :
      a)      Suhu udara
Suhu udara yang cocok untuk penyimpanan biji/benih kakao berkisar antara 18-25 derajat celcius.Suhu udara diatas dan di bawah suhu tersebut dapat mengurangi daya tumbuh benih kakao.b)      Kelembaban
Kelembaban relatif  udara yang semakin rendah dapat mengurangi daya tumbuh benih kakao.
c)      Kadar air biji
Semakin rendah kadar air benih kakao kan semakin rendah daya tumbuhnya.Benih kakao dapat mempertahankan daya tumbuhnya minimal 30 hari,jika disimpan dengan kadar air ± 40 %d)     Aerase tempat penyimpanan
Aerase tempat penyimpanan benih yang memadai dapt mempertahankan daya tumbuh benih kakao.e)      Aktifitas jamur
Benih kako yang terinfeksi jamur kan mengalami penurunan daya tumbuh atau bahkan kehilangan daya hidupnya.












PENEGELAN OPT PRA TAMAN KAKAO
            Organisme pengganggu tumbuhan pada masa pra tanam kako yang sangat merugikan,antara lain :
OPT pada benih kakao
            Mengingat benih kakao tidak memiliki masa istirahat seperti benih tanaman perkebunan lainnya,maka OPT yang menyerang benih kakao sebelum disemai adalah relatif kecil.Namun demikian seperti diuraikan diatas,selama sampai pengangkutan sebe;um disemai,sering dijumpai terinfeksi ileh beberapa jenis jamur yang dapat merusak dan menurunkan daya tumbuhnya.
            Beberapa jenis jamur yang sering dideteksi menyerang benih kakao antara lain : jamur Aspergillus sp,Penicillum sp,Fusarium sp,Verticillium sp.
OPT pada bibit kakao
A.HAMA
            Beberapa jenis hama yang sering menyerang pembibitan kakao,antara lain :
a)      Ulat Kilan ( Hyposidra talaca ) ( Lepidoptera : Geometridae )
Gejala serangan
            Ulat kilan atau ulat jengkal memakan daun bibit kakao,terutama daun muda.Daun yang terserang menjadi berlubang -  lubang.Pada serangan berat daun yang lebih tuapun dimakan juga,sehingga bibit kakao akan terhambat pertumbuhannya.
Biologi
            Imago (serangga dewasa) berwarna coklat abu – abu.berukuran 15 mm dengan rentang sayap 35 mm.Imago aktif pada malam hari.Kupu betina meletakkan telur sebanyak 700 butir,diletakkan pada permukaan batang lamtoro yang digunakan sebagai penaung.Telurnya bulat berwarna hijau muda mengkilat.
            Ulat yang baru menetas berwarna coklat kehitaman dengan empat deret bintik putih melintang pada bagian belakang tubuhnya.Warnanya berangsur – angsur berubah menjadi coklat kehijauan bercampur abu – abu.Ujung abdomen meruncing serta berada dalam tanah pada kedalaman 2 – 5 cm.
            Menjelang berkepompong ulat turun ketanah dan 2 – 3 hari kemudian menjadi kepompong.Kepompong berwarna coklat mengkilat,berukuran panjang 15 mm dan lebar 6 mm.Perkembangan hama ini sejak telur diletakkan sampai menjadi imago (kupu) memerlukan waktu sekitar 44 hari.
Penyebaran
            Ulat kilan diketahui tersebar di India,Indonesia,Malaysia,dan Papua New Guien.
Tanaman Inang
            Selain menyerang kakao,hama ini juga menyerang kopi,the,kina,jambu biji,rambutan,lamtoro,dan albasiah.
b)     Kutu Putih (Planococcus lilacinus) (Hemiptera : Pseudococcidae)
Gejala Serangan
            Kutu ini menyerang bagian pucuk (tunas muda) yang dapat menyebabkan pertumbuhan bibit terhambat karena bentuk daun menjadi keriting (melengkung).Kerusakan akibat serangan kutu ini akan menjadi lebih parah,apabila dibarengi dengan serangan cendawan jelaga (sooty mold) karena dapat mengganggu proses fotosintesis pada daun.
Biologi
            Kutu ini berwarna putih karena diselimuti lapisan lilin yang tidak kompak dan sering hidup bersimbiose dengan semut,baik dengan semut hitam maupun semut gramang.Kutu ini menyukai kondisi iklim kering sehingga sering berkembang biak pada musim kemarau,terutama pada pembibitan yang tidak diberi naungan.Siklus hidup kutu ini sekitar 37-50 hari.
Penyebaran
            Kutu ini tersebar di Asia Tenggara seperti di Malaysia,Indonesia,Formosa,dan Filipina.
Tanaman Inang
            Selain menyerang kakao,kutu ini juga diketahui menyerang sirsak,kapok,dadap,rambutan dan jambu biji.
c)      Bekicot
Serangan bekicot  terutama terjadi pada persemaian dengan lingkungan yang  lembab.Pada siang hari,bekicot dijumpai bersembunyi pada tempat-tempat yang teduh untuk menghindari sengatan matahari.Sedangkan pada malam hari mulai aktif memakan tunas –tunas bibit yang masih muda dan lunak.Akibat serangan bekicot tersebut dapat menyebabkan bibit yang masih depersemaian akan mengalami kematian.Pada saat ini serangan hama bekicot sudah jarang ditemukan.
d)     Nematoda
Nematoda merupakan salah satu gangguan pada pembibitan kakao.Beberapa jenis nematoda endoparasit yang sering menyerang pembibitan kakao,anatara lain : Meloidogyne spp,Pratylenchus spp,dan Rhadopholus spp.Sedangkan nematode ektoparasit,antara lain : Circonenoides spp,Helicotylenchus spp,dan Hemicycliophora spp.Pada umumnya nematode bersifat polyphag (menyerang banyak jenis tanaman).Ukuran nematoda bervariasi tergantung dari jenisnya,seperti Pratylenchus spp berukuran 0,5 – 0,9 mm.
Bibit yang terserang nematoda akan tampak terhambat pertumbuhannya,kerdil,daun-daun tampak khlorosis,pertumbuhannya merana dalam jangka waktu yang lama dan lama kelamaan akan mengalami kematian.Gejala serangan nematoda akan tampak pada bagian perakaran dengan terjadinya bercak-bercak (lesion) berwarna coklat.Kadang-kadang pada bagian perakaran terbentuk bintil (puru,gall) yang ukurannya tergantung pada ringan atau beratnya tingkat serangan.
B.PENYAKIT
e)      Penyakit busuk akar (Phytiphthora palmivora)
Jamur ini menyerang bibit kakao baik yang masih dipersemaian maupun dalam polybag.Dalam kondisi yang sangat lembab,jamurP.palmivora juga dijumpai menyerang bagian daun.
Bibit kakao yang terserang jamur ini pertumbuhannya terhambat dan kerdil.Apabila bibit yang terserang jamur ini di cabut,maka bagian akar akan tampak rusak/busuk.Serangan berat seringkali menyebabkan bibit kakao akan mengalami kematian.
f)       Penyakit Vascular Streak Die-Back (VSD)
Penyakit SVD disebabkan oleh jamur Oncobasidium thebromae.Akibat serangan jamur ini akan menyebabkan khlorosis dengan bercak hijau pada daun.Gejala seperti tersebut diatas,biasanya terlihat pada daun ke-2 / ke-3 dari pucuk tanaman.Sebenarnya yang pertama kali menjadi sasaran infeksi jamur ini adalah daun yang masih muda (flush).Namun demikian karena masa inkubasi jamur ini sekitar 2,5-3,0 bulan maka gejala penyakit ini baru Nampak setelah daun pucuk yang terinfeksi tumbuh menjadi dewasa.
Dua sampai tiga hari setelah gejala khas serangan penyakit VSD tersebut tampak,daun yang sakit mulai gugur.Pada kulit batang dimana tempat melekatnya daun sakit yang gugur tersebut,apabila disayat akan tampak tiga noktah berwarna coklat.Noktah tersebut sebenarnya adalah jaringan pengangkut yang telah rusak akibat serangan penyakit VSD.Selanjutnya apabila batang yang terinfeksi dibelah,akan tampak garis-garis yang berwarna coklat.Kerusakan tersubut akam menyebabkan terhambatnya aliran air dan unsur hara ke seluruh bagian tanaman,sehingga dapat menyebabkan bibit mengalami kematian,pada bibit yang berumur relative masih muda.
g)      Penyakit Anthraknose (Colletotrichum sp)
Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Colletotrichum gloeosporioides.Jamur ini menyerang daun muda dengan gejala terjadinya bintik-bintik nekrosis berwarna coklat.Setelah daun berkembang,maka bintik nekrosis tersebut berkembang menjadi bercak berlubang dengan “halo”berwarna kuning.
Pada daun yang terserang berat,akan mengalami kerontikan/gugur sehingga bibit menjadi gundul.Apabila serangan jamur ini terjadi berulang-ulang maka bibit akan membentuk ranting seperti kipas dengan ruas pendek-pendek.
Pada kodisi yang lembab,bercak-bercak pada daun akan menghasilkan kumpulan konodia yang berwarna putih.Konodia ini akan menyebar dengan bantuan air hujan,angin dan serangga serta akam menular ketanaman lain yang masih sehat.Pada kondisi yang cocok serangan jamur ini akan menyerang seluruh daun muda yang terbentuk dan daun-daun tersebut kemudian akan gugur.Apabila serangan terjadi berulang kali maka bibit terserang akan mengalami kematian karena bibit tidak mampu memproduksi asimilat yang cikup untuk pertumbuhan.
C.GULMA
            Gangguan gulma pada pembibitan kakao,baik yang masih didalam bedengan maupun polybag,tampaknya kurang menimbulkan masalah.Beberapa jemis gulma yang sering dijumpai pada pembibitan kakao,antara lain golongan rumputan yang dikendalikan secara manual/mekanis.
PERLINDUNGAN PADA MASA PRA-TANAM KAKAO
            Untuk mendapatkan benih dan bibit kakao yang baik dan sehat serta memadai,diperlukan tindakan perlindungan terhadap benih dan bibit kakao dari gangguan OPT.
            Pada umumnya perlindungan pada masa pra-tanam kakao dari gangguan OPT dilaksanakan sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang pada intinya meliputi tindakan pencegahan,pengendalian dan eradikasi.
            Kegiatan perlindungan pada masa pra-tanam kakao dari gangguan OPT,dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
1.      Karantina Tumbuhan
Untuk mencegah tersebarnya OPT berbahaya dari satu daerah kedaerah lain maupun dari luar negeri,maka upaya memasukkan benih/bibit dari satu daerah kedaerah lain maupun dari luar negeri kedalam wilayah Republik Indonesia harus melalui izin khusus,tindakan pemeriksaan dan pengawasan karantina serta harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Untuk mencegah tersebarnya OPT berbahaya yang terbawa benih/bibit kakao dari satu daerah kedaerah lain yang masih bebas,diperlukan Peraturan yang melarang untuk mengeluarkan atau memasukkan benih/bibit kakao dari suatu daerah tanpa izin khusus,misalnya dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat 1.
2.      Perlakuan Benih
Walaupun benih kakao tidak memiliki masa istirahat yang lama,namun sejak benih dikeluarkandari kulit atau polong sampai dipersemaian,tidak akan luput dari kontaminasi OPT (pathogen) baik yang ditularkan melalui udara,tanah,ditempat pemprosesan maupun selama diperjalanan [pengangkutan/transportasi.Untuk mengantisipasi terjadinya kontaminasi OPT terhadap benih kakao perlu dilakukan tindakan perlakuan benih/biji kakao sebelim dilakukan persemaian.Perlakuan benih yang dapat dilaksanakan antara lain :
a.       Pengusapan daging buah (pulp)
Biji berdaging yang baru dikeluarkan dari dalam polong buah kakao,direndam dalam air kapur 2,5 % (25 gr kapur per liter air) selama kira-kira 30 detik.Satu liter air kapur digunakan untuk merendam sekitar 1.000 butir biji berdaging.Kemudian biji diangkat dan dicuci dengan air bersih 2-3 kali untuk menghilangkan air kapur yang melekat.Setelah itu dilakukan pengusapan daging buah dari biji secara manual (dengan tangan) tujuannya agar tidak merusak/melukai biji.Kemudian dicuci kembali untuk menghilangkan air kapur yang mungkin masih menempel.
Tujuan perendaman dengan air kapur ini adalah untuk mengumpulkan daging buah pada permukaan biji agar mudah dikelupas.Disamping itu daging buah merupakan mediah untuk tumbuhnya jamur simpanan.
b.      Pemberian fungisida
Untuk melindungi serangan jamur simpanan benih kakao perlu diberi perlakuan dengan fungisida.
Fungisida yang digunakan adalah bersifat sistemik dan kontak,misalnya yang berbahan aktif carbendazime 6.2 % + mankozeb73,8 % seperti Delsene Mx 200,karena akan lebih baik daya kerjanya dari pada menggunakan fungisida sistemik saja atau kontak saja.
Konsentrasi fungisida yang digunakan adalah 1 %,yaitu 10 gr fungisida dilarutkan dalam 1 liter air.Satu liter larutan fungisida digunakan untuk merendam sekitar 500 butir biji kakao.Setiap kali perendaman selama kira-kira 5-10 menit,kemudian benih kakao diangkat dan ditiris serta dikering anginkan.
c.       Perunan kadar air
Kadar air biji sewaktu masih basah sekitar 50 %,sedangkan untuk keperluar benih,kadar air harus diturunkan menjadi sekitar 40 % (kering angina).Untuk itu benih perlu dilakukan pengeringan dengan cara dikering anginkan selama kira-kira 1-2 jam.Cara mongering anginkan adalah dengan menyebar benih secara merata di dalam kotak pengering yang beralas kawat kassa.
Benih kakao yang telah mencapai kering angina ditandai dengan tidak ada nya bintik air pada permukaan biji dan bila dipijit tidak mengeluarkan air.
d.      Seleksi
Untuk mendapatkan benih/bibit kakao yang baik dan sehat diperlukan tindakan seleksi secara teliti terhadap OPT atau syarat-syarat pertumbuhan terhadap benih/bibit yang lain :
ü  Seleksi kebun sumber benih
Benih yang akan ditanam harus berasal dari kebun sumber benih yang tidak pernah terserang OPT berbahaya,misalnya penyakit VSD,busuk akar atau penggerek buah kakao (PBK),serta memiliki sifat-sifat unggul yang diinginkan.
ü  Seleksi pohon induk
Dipilih pohon induk yang baik dan sehat (bebas dari gangguan OPT berbahaya),serta memiliki sifat-sifat yang unggul seperti daya hasil tinggi,tahan terhadap serangan OPT penting serta mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan.
ü  Seleksi buah
Kakao termasuk family Cauliforae yang memiliki bunga dan buah tersebar baik pada batang,cabang maupun ranting.Buah yang berasal dari ketiga bagian tersebut mempunyai mutu yang sama untuk dijadikan benih.
Buah yang baik sebagai sumber benih adalah buah yang tepat masak (masak fisiologis) yang ditandai dengan perubahan warna yang jelas da nisi buah telah kocak.Buah yang belum masak mempunyai daya tumbuh yang rendah.Buah kakao mencapai masa tepat masak berumur 21 minggu sejak bunga siap untuk diserbuki (anthesis).Namun demikian umur kemasakan buah tersebut banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
Untuk mendapatkan benih kakao yang baik,dipilih buah-buah yang berukuran normal,dengan ciri-ciri tidak keriput/mengkerut,tidak berbintik hitam serta utuh/tidak ada cacat akibat gangguan fisik maupun karena gangguan OPT.
ü  Seleksi biji
Benih kakao dapat berasal dari biji bagian pangkal,bagian tengah maupun dari bagian ujung buah.Biji yang bentuk,ukuran dan beratnya tidak normal hendaknya tidak digunakan untuk benih.
Benih kakao yang baik adalalah biji yang tampak bernas, padat,berukuran sedang (normal) dan tidak cacat.Umumnya berat rata-rata biji kakao per 100 butir biji yang baik untuk dijadikan benih,untuk jenis kakao DR1,DR2 dan ICS 60 adalah 300 gr.
ü  Seleksi bibit
Seleksi bibit kakao perlu dilakukan pada saat pemindahan ke polybag maupun pada saat perjalanan bibit kelapangan tau kepetani.

3.      Perlakuan tanah
Tanah untuk persemaian /pembibitan kakao sering mengandung berbagai OPT yang dapat mengganggu benih dan bibit kakao,seperti jamur pathogen  P.palmivora,nematode,uret dan lain-lain.Untuk mencegah terjadinya gangguan OPT tanah terhadap benih/bibit kakao maka tanah untuk persemaian/pembibitan kakao sebelumnya perlu diberikan perlakuan pestisida.
Pestisida untuk perlakuan tanah pada pembibitan/persemaian kakao adalah yang bersifat fumigant,misalnya yang berbahan aktif dazomet 98 %,seperti Basamid dengan dosis sesuai anjuran,yaitu 150 gr Basamid/m3 tanah.Perlakuan tanah dengan pestisida untuk persemaian/pembibitan kakao dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
ü  Pengolahan tanah
Tanah diolah terlebih dahulu secara intensif dan dibersihkan dari sisa-sisa bahan organic kasar atau sisa-sisa akar.
ü  Penaburan pestisida
Tanah yang telah diolah tersebut diatas,kemudian dicampur secara merata dengan pestisida.Agar campuran pestisida dengan tanah lebih merata maka cara penaburab pestisida dilakukan lapis-demi lapis berselang-seling dengan tanah dan kemudian diaduk sampai rata.Agar pestisida yang diberikan dapat bekerja secara efektif maka tanah yang telah dicampur rata dengan pestisida harus dilembabkan dengan penyiraman secara ringan.
ü  Penutupan tanah
Tanah yang telah diberi perlakuan pestisida dan telah disiram secara ringan tersebut,kemudian ditutup dengan lembaran plastic selama 7-10 hari,selanjutnya plastic dibuka dan tanah diangin-anginkan selama 3-4 hari sebelum digunakan baik untuk bedengan,persemaian,maupun untuk persemaian polybag.
4.      Persiapan lahan
Lahan umtuk pertanaman kakao harus dipersiapkan sedemikian rupa agar apabila bibit ditanam,kemudian akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa ada gangguan terutama serangan OPT.Persiapan lahan yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut :
e.       Land clearing (pembukaan /pembersihan lahan)
Lahan untuk pertanaman kakao harus dipersiapkan dan dibersihkan dari semak belukar dan gulma baik yang akan mengganggu pertumbuhan dipertanaman maupun gulma yang diduga dapat berperan sebagai inang OPT berbahaya.Sisa-sisa hasil tebangan semak belukar dan gulma harus dimusnahkan,dengan cara dibenam dalam tanah.
f.       Pembersihan tunggul
Areal yang dipersiapkan untuk pertanaman kakao pada daerah bukaan baru maupun bekas pertanaman lain (misalnya bekas pertanaman karet),diusahakan agar tunggul-tunggul yang tersisa harus dibongkar habis atau dengan pemberian perlakuan arborisida,misalnya yang berbahan aktif triklopir : 480 g/l seperti Garlon.Dengan pemberian Garlon diharapkan tunggul-tunggul tersisa akan segera lapuk dan hancur.Apabila tunggul-tunggul tersisa dibiarkan,dikwatirkan akan menjadi sumber infeksi bagi pathogen jamur akar.
g.      Pembuatan lubang tanam
Untuk menanam bibit kakao,lubang tanaman dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm dengan jarak tanam 3 x 3 atau 4 x 2 m.lubang tanam sebaiknya dibuat sekitar 2-3 minggu sebelum bibit ditanam.
h.      Penanaman
Waktu penanaman bibit kakao,gunakanlah tanah penutup lubang tanaman yang berasal dari hasil galian lubang yang telah dibersihkan dari sisa-sisa bahan o organik kasar.Selain diberikan pupuk buatan yang tepat jenis dan dosisnya pada waktu penanaman juga perlu diberikan pupuk kandang atau kompos untuk meningkatkan antagonis pathogen tular tanah.

5.      Pengendalian
Mengingat benih kakao memiliki masa istirahat yang singkat,maka praktis hampir tidak diperlukan tindakan pengendalian terhadap gangguan OPT.Tindakan pengendalian biasanya hanya dilakukan terhadap pembibitan kakao.Tindakan Pengendalian OPT pada pembibitan bibit kakao dilakukan mengikuti sistem PHT yang meliputi :
i.        Pengamatan
Tindakan pengamatan hama dan penyakit diperlukan sejak benih disemai pada persemaian sampai di pembibitan,bahkan sampai bibit di tanam di lapangan.Tindakan pengamatan dilakukan untuk mengetahui adanya serangan/gangguan OPT sedini mungkin agar tindakan pengendalian dapat dilaksanakan tepat pada waktunya sebelum OPT menimbulkan kerugian yang lebih besar.Pengamatan hama dan penyakit dilakukan secara menyeluruh terhadap pembibitan.
Pengamatan hama dilakukan secara visual.Apabila ditemukan hama diareal pembibitan maka segera dilakukan pengendalian dengan cara manual atau mekanis.Tetapi jika telah dilakukan pengendalian ternyata populasi hama semakin meningkat maka perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida yang sudah direkomendasikan.
Sedangkan pengamatan penyakit juga dilakukan secara visual.Apabila ditemukan penyakit diareal pembibitan perlu dilakukan pemusnahan bibit yang terserang penyakit (eradikasi).
ü  Pengambilan keputusan
Apabila dari hasil pengamatan diketahui terdapat benih/bibit yang memperlihatkan gejala serangan OPT yang diperkirakan akan menimbulkan kerusakan dan kerugian yang lebih besar,maka perlu dipertimbangkan perlu tidaknya tindakan pengendalian dan pengendalian apa yang perlu dilakukan.
j.        Pengendalian
Pengendalian OPT pada pembibitan kakao dilakukan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian yang tersedia yaitu :
ü  Pengendalian secara makanis
Apabila dari hasil pengamatan pada pembibitan kakao diketahui adanya serangan OPT berbahaya,mialnya penyakit VSD,maka segera dilakukan tindakan pengendalian,yaitu dengan cara pencabutan bibit yang dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur didalam tanah.Atau apabila masih memungkinkan dilakukan tindakan pemotongan atau pemangkasan agar masih dapat tumbuh dan bertunas kembali.
ü  Pengendalian secara kimiawi
Sesuai dengan konsep PHT,bahwa pestisida hanya digunakan sebagai alternatife terakhir,yaitu hanya digunakan apabila cara pengendalian lain tidak dapat mencegah gangguan OPT.
ü  Kultur teknis
·         Mengatur kelembaban bedengan dengan pengaturan pohon pelindung atau mengatur kerapatan atap bedengan agar cahaya yang masuk dapat diatur.
·         Membuat drainase yang baik pada tiap bedengan.
·         Penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kesehatan tanaman.
ü  Biologi
·         Penambahan pupuk kandang atau kompos untuk meningkatkan populasi parasite,antagonis atau predator dari OPT.
·         Penambahan jamur Trichoderma sp untuk pengendalian penyakit busuk akar yang disebabkan oleh P.palmivora atau Rhizoctonia sp.dsb.
·         Penggunaan varietas/hibrida/kion kakao tahan terhadap OPT penting.




Chord Gitar Tipe-X boyband

 
Intro : C Am F G
         C Am F G
               C
Memang banyak yang bilang, aku tampan rupawan
                   Am
Bentuk tubuhku seksi kekar tegap berisi
                 F
Dengan tatapan tajam penuh percaya diri
            G
Bikin wanita tergila-gila mabuk kepayang
         C
Aku pandai bernyanyi apalagi menari
                         Am
Break dance, salsa, dan samba, lulus dengan sempurna
                      F
Di tambah gaya trendy, oh pria masa kini
       G
Akulah lelaki idola sejati
C
Tapi jangan bilang mama,
Am  basic-chord.blogspot.com
Aku takut dia nanti bisa marah-marah
F
Kalau tau aku ini adalah
           G
Boy band, boy band, boy band
                 C
Memang banyak yang bilang, aku tampan rupawan
                   Am
Bentuk tubuhku seksi kekar tegap berisi
               F
Dengan tatapan tajam penuh percaya diri
             G
Bikin wanita tergila-gila mabuk kepayang
             C
A a a a aku pandai bernyanyi apalagi menari
                         Am
Break dance, salsa, samba, lulus dengan sempurna
                     F basic-chord.blogspot.com
Di tambah gaya trendy, oh pria masa kini
       G
Akulah lelaki idola sejati
C
Tapi jangan bilang mama (aku ini boy band)
Am
Aku takut nanti dia bisa marah-marah (aku memang boy band)
F
Kalau tau aku ini adalah
           G
Boy band, boy band, boy band
C
Tapi jangan bilang mama (aku ini boy band)
Am
Aku takut nanti dia bisa marah-marah (aku memang boy band)
F
Kalau tau aku ini adalah
          G
Boy band, boy band, boy band
Int : C
       C Bb C
       F Am F Am
       C G C F G
C
Tapi jangan bilang mama (aku ini boy band)
Am
Aku takut nanti dia bisa marah-marah (aku memang boy band)
F
Kalau tau aku ini adalah
          G
Boy band, boy band, boy band [2x]
     E     Am
Aku ini boy band, aku memang boy band
Am                                              Em
Uu aku memang, aku memang boy band

Kamis, 10 Mei 2012

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH


BAB I
PENDAHULUAN
      1.1  Latar Belakang
Para petani kita sejak dulu dan semasa pemerintahan belanda telah memiliki kesadaran bahwa penggunaan benih yang baik dan bermutu akan sangat menunjang dalam peningkatan produksinya, baik kwalitas maupun kuantitas. Mereka sangat berhati-hati dalam memilih benih yang akan digunakan.
Secara tradisional pemilihan benih dilakukan pada waktu pemungutan hasil panen, seperti pemilihan hasil ( selection) untuk benih padi, kacang-kacangan dll. Benih yang berasal dari tanaman yang baik mereka sisihkan, dirawat, dan disimpan sebaik-baiknya. Dengan cara ini tingkat mutu dan hasil tanaman dapat dipertahankan, dan cara pengadaan benih semacam ini telah dilakukan beabad-abad lamanya.
Namun seiring berkembangnya zaman, kini diindonesia sudah dilaksanakan suatu pola produksi benih yang lebih terarah sehingga petani dapat lebih yakin untuk meningkatkan produktivitas dengan benih yang unggul dan lebih sejahtera.
Dalam pembuatan benih tidak sedikit dan tidak semudah apa yang kita pikirkan, dalam pembuatan benih sangatlah rumit dengan tahapan-tahapan yang sangat membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Ada pun kegiatan dalam pembuatan benih yang memiliki sertifikat yaitu : pengamatan viabilitas, vigor, kemurniat benih dan masih banyak uji-uji yang dilakukan untuk mendapatkan benih unggul.
1.2  Tujuan Praktikum
Setelah melakukan praktikum produksi benih mahasiswa diharapkan mengerti dan mampu untuk :
      ·         Mengetahui struktur dari biji
·         Mengetahui tipe perkecambahan
·         Melakukan uji perkecambahan baku
·         Melakukan Index Value Test
·         Melakukan uji laju pertumbuhan kecambah
·         Pengujian kadar air benih
·         Menentukan kemurnian benih
·         Melakukan uji tetrazolium







BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1          Struktur Biji
Biji merupakan sumber makanan yang penting bagi hewan dan manusia. Diantara Angiospermae, Poaceae paling banyak menghasilkan pangan yang berasal dari biji. Fabaceae menempati tempat kedua dalam kepentingan itu. Selain untuk pangan, biji menjadi sumber minuman (misalnya kopi, coklat dan bir), obat, serat (kapas) dan minyak yang digunakan dalam industri.
Apabila dikaitkan dengan tujuan pemanfaatannya, biji mempunyai dua pengertian, yaitu biji dan benih. Biji dapat digunakan untuk bahan pangan, pakan hewan (ternak) atau bahan untuk ditanam selanjutnya. Sedangkan benih adalah biji terpilih yang hanya digunakan untuk penanaman selanjutnya dalam rangka untuk mengembangbiakan tanaman atau memproduksi biji baru.
Ukuran biji tanaman bervariasi tergantung pada jenisnya. Jangka umur benih bervariasi, bisa antara satu minggu sampai jutaan tahun. Biji tanaman hortikultura ada yang mempunyai jangkauan umur benih berkisar antara 1 hingga 4 musim tanam atau 3 hingga 12 bulan, sehingga dalam penyimpanannya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar viabilitas benih tetap tinggi.
Struktur biji berhubungan erat dengan cadangan makanan karena akumulasi cadangan makanan berhubungan erat dengan struktur biji atau tempat dimana cadangan makanan tersebut akan di simpan. Biji adalah perkembangan lebih lanjut dan ovum yang dibuahi. Derajat dari macam-macam variasi komponen dalam perkembangan biji bisa sama atau tidak, semua tergantung dengan beberapa struktur dasar yang berbeda untuk masing-masing tipe biji. Variasi dalam ukuran, ada atau tidaknya endosperm, warna dan testa dan jumlah klorofil pada biji dapat dijumpai pada beberapa spesies. Namun faktor-faktor yang menyebabkan variasi tersebut dari biji belum diketahui dengan baik.
Menurut  Sri wahyuni, Dkk (2002) Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakal biji. Pada saat pembuahan, tabung sari sari memasuki kantung embrio melalui mikropil dan menempatkan dua buah inti gamet jantan padanya. Satu diantaranya bersatu dengan inti sel telur dan yang lain bersatu dengan dua inti polar atau hasilnya penyatuan, yaitu inti sekunder. Penyatuan gamet jantan dengan sel telur menghasilkan zigot yang tumbuh menjadi embrio. Penyatuan gamet jantan yang lain dengan kedua inti polar menghasilkan inti sel endosperm pertama yang akan membelah-belah menghasilkan jaringan endosperm. Proses yang melibatkan kedua macam pembuahan (penyatuan) tersebut dinamakan pembuahan ganda. Biji masak terdiri dari tiga bagian yaitu: embrio dan endosperm yang  dihasilkan dari pembuahan ganda serta kulit biji yang dibentuk oleh dinding bakal biji, termsuk kedua integumentnya.
Embrio adalah sporofit muda yang tidak segera melanjutkan pertumbuhannya, melainkan memasuki masa istirahat (dorman). Saat biji biasanya tahan stress yaitu tahan terhadap kekurangan air, panas atau dingin yang berlebihan, penekanan dan serangan kimiawi. Embrio senantiasa diiringi oleh cadangan makanan baik organik maupun anorganik yang berada di sekeliling embrio atau di dalam jaringannya sendiri.
Kulit biji atau testa bersifat tahan atau kadang-kadang memiliki permukaan yang memudahkan penyebarannya oleh angin. Biji mampu bertahan dalam lingkungan yang keras. Oleh karena itu, suatu spesies dapat bertahan dalam iklim miskin (kurang menguntungkan pertumbuhan) dengan memiliki daur pertumbuhan yang sesuai dengan masa musim yang menguntungkan atau optimal. Daur pertumbuhan itu diikuti oleh mekanisme pertahanan dalam fase biji jika lingkungan terlalu keras. Selain toleransi terhadap strees seperti itu, biji juga merupakan alat untuk bergerak melalui lingkungan atau berpindah tempat. Setelah mencapai tempat yang cocok, biji menyerap air dan sporofit muda didalamnya dapat segera tumbuh, didukung oleh makanan cadangan yang ada padanya.
Cadangan makanan dalam biji menunjang sporofit muda yang muncul dari biji yang berkecambah sampai mampu berfotosintesi. Sebab itu, penyimpanan cadangan makanan merupakan salah satu fungsi utama biji. Penyimpanan makanan dilakukan terutama diluar embrio, yaitu dalam endosperm atau perisperm. Endosperm dibentuk oleh hasil pembelahan penyatuan inti sel jantan dengan inti sel sentral. Perisperm adalah jaringan nucleus yang menyimpan cadangan makanan. Namun, di banyak tumbuhan dikotil kedua jaringan tersebut hidup singkat saja dan makanan diserap oleh embrio yang sedang berkembang sebelum biji memasuki masa istirahat. Dalam hal itu makanan disimpan dalam tubuh embrio yaitu dalam keping bijinya.


2.2          Tipe perkecambahan
DEFINISI TIPE PERKECAMBAHAN
  • Permulaan kehidupan tumbuhan. Terjadi karena pertumbuhan radikal (calon akar) dan planula (calon batang).(Anonymous, 2010)
  • Tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji dan masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat dalam biji.(Tjitrosoepomo, 1985)
  • The beginning of an active growth by the seed embryo, resulting the seed coat and emergence of  the new plant.
Buah dari pertumbuhan aktif oleh embrio benih, menghasilkan pecahnya mantel atau pelindung biji dan munculnya tanaman baru.(Anonymous, 2010)

Perkecambahan biji dapat dibekan menjadi 2, yaitu :
  • Epigeal
Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang hijau (Phaseoulus radiatus).

  • Hipogeal
Perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di bawah tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum) (Pratiwi, 2006).


2.3          Viabilitas benih

Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat ditunjukkan melalui gejala metabiolisme dan atau gejala pertumbuhan, selain itu daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih (Sadjat, 1993). Pada umumnya viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi kecambah. Istilah lain untuk viabilitas benih adalah daya kecambah benih, persentase kecambah benih atau daya tumbuh benih. Perkecambahan benih mempunyai hubungan erat dengan viabilitas benih dan jumlah benih yang berkecambah dari sekumpulan benih merupakan indeks dari viabilitas benih.
Viabilitas ini makin meningkat dengan bertambah tuanya benih dan mencapai perkecambahan maksimum jauh sebelum masak fisiologis atau sebelum tercapainya berat kering maksimum, pada saat itu benih telah mencapai viabilitas maksimum (100 persen) yang konstan tetapi sesudah itu akan menurun sesuai dengan keadaan lingkungan .
Umumnya parameter untuk viabilitas benih yang digunakan adalah presentase  perkecambahan yang cepat dan pertumbuhan perkecambahan kuat dalam hal ini mencerminkan kekuatan tumbuh yang dinyatakan sebagai laju perkecambahan. Penilaiaan dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan kecambah lainnya sesuai kriteria kecambah normal, abnormal dan mati (Sutopo, 2002). 


2.4          Vigor benih
Menurut Endang, dkk (1999)Vigor adalah sejumlah sifat-sifat benih yang mengidikasikan pertumbuhan dan perkembangan kecambah yang cepat dan seragam pada cakupan kondisi lapang yang luas. Cakupan vigor benih meliputi aspek-aspek fisiologis selama proses perkecambahan dan perkembangan kecambah. Vigor benih bukan merupakan pengukuran sifat tunggal, tetapi merupakan sejumlah sifat yang menggambarkan beberapa karakteristik yang berhubugan dengan penampilan suatu lot benih yang antara lain :
  1. Kecepatan dan keserempakan daya berkecambah  dan pertumbuhan kecambah.
  2. Kemampuan munculnya titik tumbuh kecambah pada kondisi lingkungan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan.
  3. Kemapuan benih untuk berkecambah setelah mengalami penyimpanan.

Secara ideal semua benih harus memiliki kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga bila ditanam pada kondisi lapangan yang beraneka ragam akan tetap tumbuh sehat dan kuat serta berproduksi tinggi dengan kualitas yang baik. Vigor tumbuh dapat dikatakan sebagai “kekuatan tumbuh” untuk menjadi tanaman yang normal meskipun keadaan biofisik lapangan kurang menguntungkan (suboptimal). Vigor dapat dibedakan atas:
  1. Vigor benih
  2. Vigor kecambah
  3. Vigor bibit
  4. Vigor tanaman
Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan:
  1. Tahan disimpan lama
  2. Tahan terhadap serangan hama dan penyakit
  3. Cepat dan pertumbuhannya merata
  4. Mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam lingkungan tumbuh yang sub optimal
Rendahnya vigor dapat disebabkan:
  1. Genetis
Ada kultivar-kultivar tertentu yang lebih peka terhadap keadaan lignkungannya yang kurang menguntungkan, ataupun tidak mampu untuk tumbuh cepat dibandingkan dengan kultivar lainnya.
2. Fisiologis
Kondisi fisiologis yang berpengaruh adalah”immaturity” atau kekurang masakan benih saat panen dan kemunduran benih selama penyimpanan
3. Morfologis
Contohnya, benih yang kecil menghasilkan bibit yang kurang memiliki kekuatan tumbuh dibandingkan dengan benih yang besar
4. Sitologis
Kemunduran benih yang disebabkan oleh antara lain aberasi khromosom
5. Mekanis
Kerusakan mekanis yang terjadi pada benih pada saat panen, prosesing ataupun penyimpanan
6. Mikrobia

Benih yang memiliki vigor rendah berakibat:
  1. Kemunduran benih yang cepat selama penyimpanan
  2. Makin sempitnya keadaan lingkungan di mana benih dapat tumbuh
  3. Kecepatan berkecambah benih menurun
  4. Kepekaan akan serangan hama penyakit meningkat
  5. Meningkatnya jumlah kecambah abnormal
  6. Rendahnya produksi tanaman
Pengamatan dan penilaian dalam mengidentifiksi vigor benih dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung didasarkan pada potensi penampilan suatu lot benih baik secara fisiologis maupun fisik. Secara langsung adalah pengamatan dan penilaian benih pada kondisi lingkungan yang tidak sesuai atau kondisi lain yang dapat diciptakan di laboratorium dan dilakukan pencatatan terhadap tingkat daya tumbuh benih. Secara tidak langsung adalah pengamatan dan penilaian dengan mengukur sifat lain benih yang terbukti berhubungan dengan beberapa aspek penampilan kecambah (anonym, 2009)


2.5          Sertifikasi benih
Sertifikasi benih dilakukan oleh BPSP/PVT. Adapun dalam melakukan sertifikasi benih, semua persyaratan mengenai areal sertifikasi, prosedur sertifikasi, dan pemeriksaan lapangan diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Menteri Pertanian RI, 2006). Dalam sertifikasi benih terdapat prinsip sertifikasi dan standarisasi benih, dan uji BUSS.  Hal ini dilakukan menjamin mutu benih.

Prinsip-prinsip Sertifikasi Benih 
Tujuan sertifikasi benih adalah untuk melindungi keaslian (keontentikan dan kemurnian varietas selama proses produksi dan pemasaran, agar potensi genetik dapat sampai secara utuh kepada penggunanya.
            Secara ringkas prinsip-prinsip sertifikasi benih adalah (ISTA 1971) :
    a)    Penerimaan varietas ke dalam skim sertifikasi. Hanya varietas yang  resmi telah dilepas yang dapat dimasukan ke dalam skim. Persyaratan unik, seragam dan mantap perlu ditetapkan untuk memungkinkan para petugas dapat mengindentifikasi secara objektif.b)     Penentuan kelas-kelas benih. Dua kelas benih yaitu : (1) benih penjenis yang diproduksi dibawah tanggung jawab pemulia; dan (2) benih bersertifikat generasi pertama dan generasi selanjutnya yang merupakan keturunan dari Benih Penjenis.c) Pengendalian mutu dalam proses produksi Benih Penjenis dan Benih Bersertifikat. Persyaratan di bawah ini menjadi pertimbangan dalam pengendalian produksi :·         Pertanaman sebelumnya·         Isolasi tanaman·         Penyakit terbawa benih·         Gulma·         Inspeksi lapangan·         Standar minimum untuk kemurnian varietas·         Pengambilan contoh dan pengemasan·         Pengujian laboratorium secara resmi untuk kemurnian fisik dan daya kecambah.d)     Pemberian sertifikat dan pemasangan label.e)      Pelabelan ulang (relabelling) dan resealing di negara lain (untuk benih ekspor /impor).f)       Koordinasi di antara lembaga yang berwenang.








BAB III
BAHAN  DAN PROSEDUR PRAKTIKUM

3.1 waktu dan tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada waktu minggu ke 4 (empat) perkuliahan hingga minggu ke 11 dan bertempat di laboratorium ekofisiologi fakultas pertanian universitas riau kampus binawidya Km 12.5 simpang baru panam pekanbaru.

3.2 Bahan dan Alat
   3.2.1 struktur biji
     a.    Bahan praktikum
-Buah tomat-Buah kedondong-Buah mentimun
b.    Alat praktikum
-pisau-alat tulis-buku gambar

3.2.2 Tipe Perkecambahana.    Bahan praktikum
-Benih jagung-Benih kedelai
b.    Alat praktikum
-Seedbed-alat tulis-buku gambar
3.2.3 Uji perkecambahan baku (viabilitas benih)a.    Bahan praktikum
-Benih jagung-kertas stensil-Aquadestilate
b.    Alat praktikum
-Germinator gelap
3.2.4 Index Value Test (vigor benih)a.    Bahan praktikum
-Benih jagung-kertas stensil-Aquadestilate
b.    Alat praktikum
-Germinator gelap

3.2.5 Uji laju pertumbuhan kecambah (vigor benih)a. Bahan praktikum-Benih jagung-kertas stensil-amplop ukuran 10 X 15 cm
b. Bahan praktikum-oven-timbangan analistis-mistar-cutter-kaleng



3.2.6 Pengujian kadar air benih (sertifikasi benih)a. Bahan praktikum-biji jagung-amplop kecil
b. Alat praktikum-oven-timbangan analitis-excikator-cawan timbang

3.2.7 kemurnian benih (sertifikasi benih)a.    Bahan praktikum
-benih tanaman yang telahdiproses setelah panen-amplop kecil
b.    Alat praktikum
-pinset-timbangan analitis-cawan timbang

3.2.8 Uji tetrazolium (sertifikasi benih)a.    Bahan praktikum
-benih jagung-larutan tetrazolium 1%-aquadestilate
b.    Alat praktikum
-oven-beakerglass 100 ml-pisau cutter-timbangan analitis



                                                  
3.3 prosedur praktikum

3.3.1 Struktur Biji

Prosedur praktikum
-iris secara horizontal buah tomat dan untuk buah tomat yang kedua iris secara vertical.
-kemudian amati dan gambar buah tersebut dalam keadaan utuh, irisan horizontal dan irisan vertical.
-lakukan hal yang sama dengan buah kedondong dan mentimun.

3.3.2 Tipe Perkecambahan

Prosedur praktikum
-isi campuran media tanam kedalam seedbed sebanyak ¾ bahagian tinggi.
-tanam masing-masing benih kedalam seedbed dengan kedalaman 3cm.
-lakukan penyiraman secukupnya.
-lakukan pengamatan pada hari ketujuh kemudian gambar pada buku gambar.

3.3.3 Uji perkecambahan baku (viabilitas benih)

Prosedur praktikum
-basahi 2 lembar kertas stensil untuk meletakan benih yang akan di uji.
-susun biji dalam 5 baris yang setiap barisnya 10 benih dengan jarak yang sama.
-tutup biji dengan selembar kertas stensil yang telah dibasahi.
-beri lipatan setiap pinggir kertas kira-kira 1.5 cm kea rah dalam.
-gulung kertas yang berisi benih tadi menjadi 4 bagian.
-Buatlah masing-masing 2 ulangan.
-letakan gulungan kertas kedalam germinator  secara mendatar.
-pada hari ketiga gulungan dibuka, dan pisahkan benih yang berkecambah dan yang belum berkecambah.
-tutup dan gulung kertas seperti semula dan letakan kembali kedalam germinator.
-lakukan kembali pengamatan pada setiap 2 hari sekali sampai hari ke 7.

3.3.4 Index value test (vigor benih)

Prosedur praktikum
-basahi 2 lembar kertas stensil untuk meletakan benih yang akan di uji.
-susun biji dalam 5 baris yang setiap barisnya 10 benih dengan jarak yang sama.
-tutup biji dengan selembar kertas stensil yang telah dibasahi.
-beri lipatan setiap pinggir kertas kira-kira 1.5 cm kea rah dalam.
-gulung kertas yang berisi benih tadi menjadi 4 bagian.
-Buatlah masing-masing 2 ulangan.
-letakan gulungan kertas kedalam germinator  secara mendatar.
-pada hari ketiga gulungan dibuka, dan pisahkan benih yang berkecambah dan yang belum berkecambah.
-tutup dan gulung kertas seperti semula dan letakan kembali kedalam germinator.
-lakukan kembali pengamatan pada setiap 2 hari sekali sampai hari ke 7.

3.3.5 Uji laju pertumbuhan kecambah (vigor benih)

Prosedur praktikum
-lipat kertas menjadi 2 bagian yang tidak sama
-basahi kertas stensil
-susun biji dengan jarak yang sama sejumlah 15 biji
-tutup dengan kertas stensil yang sudah dibasahi
-gulung menjadi 4 bagian. Letakan pada germinator secara vertical
-pada hari ke 7 lakukan pengamatan
-pisahkan akar dan plumule dengan pisau cutter dan masukan pada amplop yang berbeda dan timbang berat basah akar dan plumule
-masukan kedalam oven semama 24jam dengan suhu 850
-timbang berat kering akar dan catat kedalam table pengamatan
3.3.6 Pengukuran kadar air benih (sertifikasi benih)
Prosedur praktikum
-ambil secaraa random benih dari satu kantong penyimpanan.
-timbang biji yang diambil dan dinyatakan sebagai berat basah.
-masukan biji kedalam amplop setelah ditimbang.
-masukan amplop yang berisi biji tadi kedalam oven dengan suhu 700 C selama 48 jam.
-masukan kedalam excikator selama 30 menit agar stabil beratnya.
-timbang berat kering biji dengan timbangan analitis.

3.3.7 Kemurnian Benih (sertifikasi benih)


Prosedur praktikum
-ambil secaraa random benih dari satu kantong penyimpanan.
-pisahkan komponen benih murni, benih tanaman lain, benih rerumputan, dan kotoran lainnya.
-timbang bobot masing-masing komponen.
-jumlahkan berat seluruh komponen untuk mendapatkan berat total.

3.3.8  Uji tetrazolium (sertifikasi benih)


Prosedur praktikum
Persiapan larutan TZ
-timbang TZ sebanyak 500 mg
-siapkan beakerglass yang berisi 500ml air aquadestilate
-masukan TZ yang sudah ditimbang dan aduk secara perlahan.
Penyiapan benih
-lembabkan benih pada media kertas selama 12 jam.
-kemudian benih dipotong memanjang mengenai embryo nya.
Pelaksanaan pewarnaan dan pengamatan
-100 biji yang sudah lembab ditutup dengan kertas dan masukan ke dalam wadah pewarnaan.
-masukan TZ 1% secukupnya.
-masukan wadah tersebut selama 2jam.
Keluarkan wadah dan basuh dengan aquadestilate beberapa kali.



















BAB III
Hasil dan Pembahasan
4.1        Hasil


4.1.1      Daya Kecambah (Viabilitas) Benih

      Tabel 4.1.3.a. Hasil pengamatan praktikum Standard germinator test (SGT) ulangan pertama
SGT U1*
Jumlah benih hidup hari ke-
Jumlah benih mati hari ke-
Kecabah abnormal
Nilai UHT 1
Nilai UKB 2
3
5
7
3
5
7

0

64,67 %

96,67 %
48
49
48
2
1
2
    
      Tabel 4.1.3.b. Hasil pengamatan praktikum Standard germinator test (SGT) ulangan kedua
SGT U2*
Jumlah benih hidup hari ke-
Jumlah benih mati hari ke-
Kecabah abnormal
Nilai UHT 1
Nilai UKB 2
3
5
7
3
5
7

0

63,34 %

95, 34 %
47
48
48
3
2
2

     Keterangan:           *  SGT U1  = Standard germinator test ulangan pertama
                                    ** SGT U2 = Standard germinator test ulangan kedua
                                    1 UHT      = Uji hitung pertama
                                    2UKB      = Uji kecambah baku






4.1.2      Kekuatan  Kecambah (Vigor) Benih
4.1.2.1  Indeks Value Text (IVT)
Tabel 4.1.2.1. Hasil pengamatan praktikum indeks value text (IVT)
Hari ke-
IVT U1*
IVT U2**
Rata-rata
2
48
44
46
3
48
44
46
4
48
45
46,5
5
48
45
46,5
6
48
45
46,5
7
48
45
46,5
Nilai IVT
117.6
108.75
113.175

Keterangan:    *  IVT U1  = Indeks value text ulangan pertama
                        ** IVT U2 = Indeks value test ulangan kedua

4.1.2.2  Uji Laju Pertumbuhan (Seed Growth Text)
         Tabel 4.1.2.2. Hasil pengamatan praktikum RSGT
RSGT U1
No.
Panjang akar
Panjang plumule
Berat basah kecambah
(gr)
Berat kering kecambah
(gr)
1
14
11

10,27

2,71
2
12,6
11,5
3
13,8
15,6
4
14
9,5
5
9
6
6
12
11,8
7
12,6
15,5
8
12,5
8,5
9
13,4
13
10
12,5
7,5
11
5,8
0.5



RSGT U2
No.
Panjang akar
Panjang plumule
Berat basah kecambah
(gr)
Berat kering kecambah
(gr)
1
15
7,5

12,54

3,45
2
16
11,5
3
13
5,5
4
11
6,7
5
14
3
6
10,5
4,5
7
14,5
4,3
8
12,5
6
9
13,5
9,5
10
6
5,5
11
11,7
6,5
12
13,6
9
13
16,2
10
14
11,5
6,5


4.3.1         Kemurnian Benih
  Tabel 4.1.5. Hasil pengamtan praktikum kemurnian benih
No.
Komponen
Berat (gr)
Persen Komponen (%)
1
Benih murni
32,34
91,54
2
Benih tanaman lain
2,45
6,93
3
Rerumputan
0,04
0,11
4
Kotoran Benih
0,50
1.42
Total
35,33
100

4.3.2      Uji Tetrazolium
        Tabel 4.1.6. Hasil pengamtan praktikum uji tetrazolium
Jumlah biji yang dikecambahkan
Jumlah embryo berwarna merah
Jumlah embryo tidak berwarna
50
36
13
Viabilitas
72,00%






4.4        Pembahasan

4.4.1      Daya Kecambah (Viabilitas) Benih
Pada data yang kami peroleh diketahui bahwa benih memiliki UHT dan UKB yang cukup tinggi, hal ini bisa disebabkan karena benih memiliki mutu yang baik dan tumbuh optimal. Perkecambahan yang optimal dapat disebakan 2 faktor yaitu internal dan eksternal, factor internalnya antara lain faktok genetic benih itu sendiri, sedangkan factor eksternalnya yaitu kecukupan air cahaya dan suhu. Factor eksternal yang optimal dapat menyebabkan perkecambahan dapat optimal pula.

4.4.2      Uji Laju Pertumbuhan Kecambah
Pada uji laju pertumbuhan kecambah didapatkan data setelah 7 hari perkecambahan diperoleh rata-rata panjang plumula sekitar 12,387 cm sedangkan rata-rata panjang akar sekitar 8,446 cm sehingga didapat rasio perbandingan akar dan plumula ± 1 : 3

4.4.3      Kemurnian Benih
Pada data yang kami peroleh kemurnian benih juga sudah cukup tinggi yaitu 91,54%, namun benih tanaman lain persentasinya cukup tinggi pula, mencapai 6,93 %. Dalam kegiatan untuk sertifikasi benih agar benih dijamin kwalitasnya diharapkan persentase benih murni lebih ditingkatkan dan persentase yang lainnya dapat diminimalisir.
4.4.4      Uji Tetrazolium
Pada uji tetrazolium yang telah kami lakukan diperoleh persentase viabilitas 72%, hasil dari uji tetrazolium sudah lebih dari 50% , namun untuk diproduksi menjadi benih hasil yang dicapai masih tergolong rendah, karena menurut  Sadjad,S. (1974) Jika daya kecambah benih dibawah 80% maka benih tersebut tidak layak dipergunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman.













BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
      ·         Biji terdiri dari kulit biji, embryo dan endosperm.
·         Tipe perkecambahan biji dibagi menjadi 2 tipe yaitu : hypogeal dan epygeal.
·         Pengamatan viabilitas dan vigor bisa dilakukan dengan UKB, IVT, dan Uji laju pertumbuhan kecambah.
·         Kemurnian benih merupakan salah satu syarat benih untuk mendapatkan sertifikasi
·         Uji tetrazolium bisa menentukan viabilitas dan vigor dalam waktu yang singkat (2-3 jam).







4.2 Saran
      ·         Dalam melaksanakan praktikum produksi benih diperlukan ketelitian dan kedisiplinan.
·         Jika ingin menguji viabilitas dan vigor benih dalam  waktu singkat maka gunakanlah uji tetrazolium yang hanya memerlukan waktu 2-3 jam disbanding dengan UKB, IVT, dan seedling growth rate yang memerlukan waktu ± 7 hari.




DAFTAR PUSTAKA
Agro, Alul. 2009. Pertumbuhan Vegetatif. www.alulagro.blogspot.com/2009/04/pertumbuhan-veg. Diakses pada tanggal 1 mei 2012
Anonym. 2009. Vigor benih. http://teknologibenih.blogspot.com/2009/10/vigor-benih.html. diakses pada tanggal 7 mei 2012
Kartasapoetra ance . 1986. Teknologi Benih. Press Rineka cipta. Jakarta
Lisa Navita. 2012. Sertifikasi benih. http://lissa-blogku.blogspot.com/2012/02/sertifikasi-benih.html. diakses paad tanggal 7 mei 2012
Murniati endang, Dkk. 1999. Parameter pengujian vigor benih dan komparatif ke simulative. Press grasindo.jakarta
Pratiwi. 2006. Biologi.Jakarta:Erlangga
Sadjad syamsoeoed. 1997. Membangun industry benih dalam era agribisnis indonesia. Press grasindo.jakarta
Sadjad syamsoeoed. 1994. Kualifikasi metabolism benih. Press grasindo.jakarta

Sadjad syamsoeoed.1993. dari benih kepada benih. Press grasindo.jakarta
Sutopo lita.2002. teknologi Benih. Press grafindo.jakarta
Wahyuni Sri, Dkk. 2002. Memproduksi benih bersertifikat. Press Penebar swdaya. Bogor